Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Times/EBTKE
IDN Times/EBTKE

Ngada, IDN Times - Sebagai upaya untuk mendukung percepatan pengembangan panas bumi di Pulau Flores (Program Flores Geothermal Island), Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pemerintah Kabupaten Ngada menginisiasi gelaran forum bisnis di Kantor Bupati Ngada pada Sabtu (12/10).

Hadir pada kesempatan tersebut, Direktur Jenderal EBTKE FX Sutijastoto mengatakan, forum bisnis itu dimaksudkan untuk mencari peluang pengembangan bisnis yang mampu menciptakan demand bagi pembangunan pembangkit listrik berbasis panas bumi sebagai upaya menyukseskan Program Flores Geothermal Island.

Dirjen Toto mengatakan, penciptaan demand (demand creation) di Flores diperlukan mengingat pengembangan panas bumi di Flores khususnya untuk pembangkitan tenaga listrik hanya mengikuti pertumbuhan demand secara alami. Oleh karena itu, pemanfaatan sumber daya panas bumi tidak akan optimal. Ia menambahkan, untuk bisnis tertentu seperti pariwisata/perhotelan, pengolahan hasil pertanian atau perkebunan, selain sebagai demand listrik, mencari peluang untuk memanfaatkan panas bumi secara langsung.

"Jadi kita di sini untuk kesamaan pandangan bagaimana kita menyamakan persepsi, menyamakan tujuan sehingga kita bisa memberikan kontribusi melalui Flores Geothermal Energy, dan tentu saja ini bagian dari pengembangan EBT. Dengan begitu, kita ikut membantu mengurangi masalah ekonomi nasional. Kita kumpul hari ini untuk memetakan potensi-potensi yang mampu meningkatkan ekonomi setempat. Kita mulai dengan Ngada, Ende, Labuan Bajo, dan Laratuka," tutur Dirjen Toto di depan peserta forum bisnis.

Wakil Gubernur NTT, Bupati Ngada, Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE, General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTT, EVP EBT PT PLN G&G, UNDP, pelaku usaha bidang pariwisata dan perhotelan, pemuka masyarakat, dan pengusaha lokal hadir pada forum bisnis tersebut.

1. Potensi panas bumi Pulau Flores begitu besar

www.instagram.com/hsbn_marco/

Pulau Flores sendiri memiliki potensi panas bumi yang besar dan tersebar di 17 lokasi dengan sumber daya 402.5 MWe dan cadangan 527 MWe. Karena potensi panas buminya yang besar itu, Pulau Flores ditetapkan sebagai Pulau Panas Bumi pada 19 Juni 2017 melalui Surat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Sasaran penetapan Flores Geothermal Island ialah pemenuhan kebutuhan listrik dasar (baseload) di Pulau Flores dengan memaksimalkan potensi panas bumi serta pemanfaatan panas bumi secara langsung (direct use) sebagai peningkatan nilai tambah hasil pertanian, perkebunan, dan pariwisata. 

2. Pembangunan pembangkit tenaga listrik di Flores perlu dipercepat

IDN TImes/EBTKE

Sementara itu, Rasio Elektrifikasi (RE) di NTT baru mencapai 72 persen (Juli 2019) merupakan yang terendah di Indonesia karena RE Nasional sudah lebih dari 98,8 persen. Pertumbuhan industri pariwisata di NTT khususnya di Flores sangat cepat, terutama setelah Labuan Bajo menjadi salah satu destinasi wisata prioritas sehingga perlu didukung dengan ketersediaan energi listrik.

Untuk mendukung percepatan peningkatan rasio elektrifikasi dan mendukung pertumbuhan industri, khususnya pariwisata, diperlukan percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik.Karena ketersediaan sumber dayanya, panas bumi pun menjadi pilihan utama. Oleh karenanya, pada kesempatan tersebut, Dirjen Toto menegaskan perlunya keterlibatan beberapa pihak untuk membangun ekonomi di Flores melalui penyamaan pandangan, komitmen berkontribusi, serta pemetaan potensi ekonomi dan pihaknya siap berkolaborasi membangun Flores.

"Kami dari Ditjen EBTKE siap berkolaborasi untuk membangun Flores. Mau kita lihat apakah di Mataloko ada panas bumi 63 MW atau tidak, dan jika memang benar mari kita garap secepat mungkin, apalagi sekarang transmisinya sudah ada. Oleh karena itu, nanti kita fasilitasi. Mataloko berada di Kabupaten Ngada, NTT. Luas WKP 10,1 km. Saat ini PLTP Mataloko berkapasitas 1 x 2,5 MW, nantinya akan dikembangkan kapasitas 2 x 10 MW oleh PT PLN," ujar Toto.

3. Flores Geothermal Island sedang diusulkan ke Bappenas agar dimasukkan ke RPJMN 2020-2024

Ilustrasi aktivitas geothermal (Burkni Palsson)

Saat ini, sedang disiapkan penyusunan kajian Masterplan Flores Geothermal Island. Berdasarkan identifikasi awal diperlukan enam Working Group (WG) untuk melakukan kajian tematik bagi beberapa aspek, yaitu WG Geothermal Resources, WG Economic Planning, WG Energy Demand, WG Energy Supply, WG Environment, Social, and Land, dan WG Financial Resource, yang melibatkan kementerian lembaga dan pemerintah daerah. Untuk mendorong penguatan koordinasi baik antarkementerian/lembaga maupun pemerintah daerah dan meningkatkan prioritas program, Flores Geothermal Island sedang diusulkan ke Bappenas agar dimasukkan dalam RPJMN 2020-2024. 

Editorial Team