ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Usai bertemu Soeharto di Cendana, Habibie memanggil menteri beberapa koordinator dan sejumlah menteri ke kediamannya. Di hadapan empat menko dan 14 menteri, dia menyampaikan rencana Soeharto mengumumkan jajaran Menteri Kabinet Reformasi yang baru.
Namun, Habibie menyayangkan, saat itu Soeharto tak berkenan berbicara dengannya. Soeharto hanya menugaskan Menteri Sekretaris Negara Saadillah Mursyid, untuk menyampaikan keputusan bahwa esok harinya pukul 10.00, Soeharto akan mundur sebagai presiden.
"Sesuai UUD 1945, Pak Harto menyerahkan kekuasaan dan tanggung jawab kepada Wakil Presiden RI di Istana Merdeka. Pengambilan sumpah Wakil Presiden menjadi Presiden akan dilaksanakan oleh Ketua Mahkamah Agung di hadapan para Anggota Mahkamah Agung lainnya," begitu bunyi pesan Mensesneg kepada Habibie, kala itu.
Mendengar pesan itu, Habibie terkejut dan meminta agar segera berbicara dengan Soeharto. Sayangnya, permintaan Habibie tak dikabulkan, namun ajudan Presiden mengusahakan pertemuan empat mata antara dirinya dengan Soeharto di Cendana.
"Setelah pembicaraan melalui telepon dengan Saadillah Mursyid selesai, saya kembali ke pendopo untuk menjelaskan informasi yang baru saja saya peroleh," kata Habibie.
Habibie lalu menyampaikan kepada para menko dan menteri bahwa Soeharto akan mundur, dan menyerahkan jabatan kepadanya. Keputusan Soeharto tersebut tentu mengejutkan mereka.
"Kemudian saya meminta agar para menteri yang hadir, dan juga para Asisten Wakil Presiden yang berada di ruang sebelah pendopo, untuk memanjatkan doa kehadirat Allah SWT. Saya minta Jimly Asshiddiqie untuk memimpin doa. Istri saya juga diminta untuk hadir," ujar Habibie.