(Makam Panglima Besar Jenderal Sudirman) purbalinggakab.go.id
Daan Mogot lahir di Manado, 28 Desember 1928 dengan nama asli Elias Daniel Mogot, dari pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang. Daan Mogot awalnya direkrut Seinen Dojo, pasukan paramiliter Jepang saat usianya 14 tahun.
Pada 1943, Daan Mogot menjadi instruktur Pembela Tanah Air (Peta) di Bali, dan bergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) pada 17 Agustus 1945. Bersama rekannya di Peta pulau Dewat, Daan Mogot mendirikan Akademi Militer Tangerang, yang saat itu merekrut 180 orang sebagai calon perwira.
Daan Mogot gugur dalam pertempuran heroik Lengkong pada 25 Januari 1946. Ia meninggal karena terkena tembakan di dada, namun terus bertahan menembaki tentara Belanda demi menyelamatkan bawahannya. Pertempuran itu terjadi di wilayah Tangerang bagian selatan. Ia wafat dalam usia 17 tahun.
Senasib dengan Daan Mogot, Jenderal Sudirman juga terus memimpin pasukan melawan Belanda meski menderita paru-paru. Pada usia 31 tahun, dia sudah menjadi jenderal. Awal pendudukan Jepang, Sudirman masuk menjadi tentara Peta dan menjadi Komandan Batalyon di Kroya.
Sudirman lahir di Bondas, Karangjati, Purbalingga pada 24 Januari 1916 dan menempuh pendidikan di Taman Siswa. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke HIK atau sekolah guru di Muhammadiyah di Solo, namun tak sampai tamat.
Setelah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dibentuk, Sudirman menjadi Panglima Angkatan Perang RI. Dia menjadi tokoh sentral saat terjadi agresi militer Belanda II, di mana Yogyakarta saat itu berhasil dikuasai Belanda. Sementara, Bung Karno dan Bung Hatta sedang ditawan Belanda.
Saat itu, Sudirman tetap melakukan perlawanan dengan perang gerilya, namun ia
akhirnya meninggal dunia dalam usia 34 tahun di Magelang, Jawa Tengah, pada 29 Januari 1950. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.