Mayoritas tak berarti harus menindas. Prinsip itu nampaknya dipegang betul oleh penduduk Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali. Saat agama kian sering digunakan sebagai pembenar dalam membuat onar, warga Bebandem berlaku sebaliknya. Mereka memilih menjadikan agama sebagai alat untuk melindungi sesama.
Pemeluk Hindu di wilayah paling timur pulau Bali ini meyakini bahwa ajaranTat Twam Asi atau saling asih tak hanya berlaku bagi kawan seiman. Umat dari keyakinan lain pun harus diperlakukan sama. Sebaliknya, muslim yang merupakan minoritas juga tak lantas berontak dan membuat gaduh.
Setidaknya, hal itulah yang dituturkan oleh salah satu warga bernama Anas Rizki Bachtiar. Pria 27 tahun ini fasih betul saat diminta bercerita tentang toleransi di desanya dijaga. "Saya sejak bayi di sini, warga mayoritas di sini menjunjung tinggi toleransi," kata Anas kepada IDN Times melalui pesan pendeknya, Senin (19/6). Menurut Anas, Ramadan yang merupakan bulan besar bagi umat muslim pun menjadi bukti bagaimana toleransi sudah membudaya di sana.
