Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Belajar Toleransi dari Ujung Timur Pulau Dewata

Mayoritas tak berarti harus menindas. Prinsip itu nampaknya dipegang betul oleh penduduk Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali. Saat agama kian sering digunakan sebagai pembenar dalam membuat onar, warga Bebandem berlaku sebaliknya. Mereka memilih menjadikan agama sebagai alat untuk melindungi sesama.

Pemeluk Hindu di wilayah paling timur pulau Bali ini meyakini bahwa ajaranTat Twam Asi atau saling asih tak hanya berlaku bagi kawan seiman. Umat dari keyakinan lain pun harus diperlakukan sama. Sebaliknya, muslim yang merupakan minoritas juga tak lantas berontak dan membuat gaduh.  

Setidaknya, hal itulah yang dituturkan oleh salah satu warga bernama Anas Rizki Bachtiar. Pria 27 tahun ini fasih betul saat diminta bercerita tentang toleransi di desanya dijaga. "Saya sejak bayi di sini, warga mayoritas di sini menjunjung tinggi toleransi," kata Anas kepada IDN Times melalui pesan pendeknya, Senin (19/6). Menurut Anas, Ramadan yang merupakan bulan besar bagi umat muslim pun menjadi bukti bagaimana toleransi sudah membudaya di sana. 

Tarawih dijaga Pecalang.

https://cdn.idntimes.com/content-images/post/20170620/pecalang-14bef7087a6f6807cc3b5e651d8cbeb4.jpeg

Sebagai pendatang, Anas patut bersyukur karena perlakuan masyarakat setempat membuat Ramadan tak berbeda dengan daerah yang berpenduduk mayoritas muslim. Salah satunya terlihat saat umat muslim menjalankan salat tarawih. "Polisi adat atau pecalang biasanya turun tangan untuk memastikan keamanan," ujar pegawai di salah satu instansi pemerintahan tersebut. Sebaliknya, saat warga Hindu merayakan hari besar, umat muslim-lah yang menjamin kekhusyuan ibadah mereka.

Buka puasa sambil Megibung.

https://cdn.idntimes.com/content-images/post/20170620/megibung-3d7e558506c62f907a71907d06fbd0bf.jpeg

Sebagai timbal balik, masyarakat muslim pun berbagi berkah Ramadan. Mereka biasanya akan mengundang tetangga Hindu mereka untuk makan bersama atau biasa disebut Megibung. Di bulan Ramadan, Megibung kerap dilakukan sambil berbuka puasa.

Ditutup dengan Ngejot.

https://cdn.idntimes.com/content-images/post/20170620/ngejot-fca5e071ed45c737fb74fe5c3a10ce53.jpeg

Toleransi saat Ramadan di sana makin sahih dengan adanya tradisi Ngejot. Ngejot merupakan budaya bagi-bagi makanan jelang hari raya. Tradisi ini dilakukan sebagai wujud syukur dan berbagi kebahagiaan antar sesama warga.  "Kalau menjelang Lebaran gini, warga muslim ngasih makanan gitu ke tetangga, termasuk yang Hindu," ujarnya. 

Biasanya, makanan yang diberikan berupa kue lebaran hingga opor ayam. Sebaliknya, tradisi berbagi makanan ini juga dilaksanakan oleh warga Hindu saat merayakan hari raya Galungan.

Share
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah
Follow Us

Latest in News

See More

Gempa Hari Ini 27/12/2025 bermagnitudo 5.8 di ENGGANO-BENGKULU

27 Des 2025, 08:15 WIBNews
gallery keenam

Artikel revised [edit LAGI]

25 Nov 2025, 15:15 WIBNews