Surabaya, IDN Times - “Psst, psst..”, suara berbisik menyapa setiap orang yang berlalu-lalang. Jarum jam menunjukkan pukul 02.50 WIB. Malam hampir berganti subuh. Senandung tarhim saling bersahutan dari menara masjid. Suasana di seputaran Makam Kembang Kuning, Wonokromo semakin ramai.
“Mau cari apa mas?” sumber suara semakin jelas kala seorang transpuan muncul dari bebatuan Makam Cina yang menjulang tinggi. Semerbak parfum menghipnotis setiap mereka yang memarkirkan kendaraannya. Hingga 10 atau 20 menit ke depan, mereka akhirnya “hilang bersama kenikmatan" di tengah makam.
Usai melayani pelanggannya, Rose (bukan nama asli) kembali berbenah diri. Transpuan berusia 35 tahun itu tak kenal barang semenit pun untuk istirahat. Dengan sebatang rokoknya, ia sabar menanti pria yang haus akan hasrat seksual. Baginya, ini adalah kebutuhan biologis sekaligus tuntutan untuk melanjutkan hidup.
“Aku udah kayak begini (jual diri sebagai transpuan) sejak usia 15 tahun. Waktu itu sih aku penasaran gimana sih rasanya, eh ke sini-sininya ketagihan,” kata dia kepada IDN Times.
Alih-alih takut akan dosa karena berbuat maksiat di tengah kuburan, ia lebih khawatir bila ibunya yang sudah renta tidak bisa menikmati sesuap nasi keesokan harinya.
“Bapakku udah meninggal, kakak-kakakku udah pada nikah, sekarang aku tinggal sendiri bareng ibu. Ibaratnya aku tulang punggung keluarga gitu, jadi aku sekarang kayak begini ya demi uang aja,” lanjut dia.
