700 Hari Teror Novel Baswedan, Pegawai KPK akan Gelar Aksi Diam

Jakarta, IDN Times - Kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, genap 700 hari pada Selasa (12/3) ini. Namun, hingga sekarang belum ada titik terang soal siapa pelaku dan aktor intelektual di balik teror yang nyaris merenggut indera penglihatan Novel tersebut.
Untuk memperingati teror air keras yang menimpa Novel, beberapa LSM yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil akan menggelar aksi diam di depan gedung KPK, Selasa malam. Aksi diam akan berlangsung selama 700 detik. Tujuan aksi ini supaya publik tidak lupa bahwa pelaku teror terhadap Novel masih berkeliaran.
"Selasa genap memasuki hari ke-700 kasus Novel. Wadah Pegawai KPK dan Koalisi Masyarakat Sipil, LBH Jakarta, YLBHI, dan ICW akan melakukan serangkaian kegiatan," ujar Ketua Wadah Pegawai KPK, Yudi Purnomo Harahap, Senin (11/3), di Jakarta.
Ia mengatakan, aksi diam akan dimulai tepat pukul 19:00 WIB. "Kegiatannya, kami akan melakukan aksi diam selama 700 detik pada pukul 7 malam di depan Gedung KPK," kata Yudi.
1. Kasus Novel tidak pernah dituntaskan hingga saat ini

Menurut Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK, Yudi Purnomo, mereka telah meminta kepada Polri agar secepatnya menuntaskan kasus Novel Baswedan. Namun, keinginan itu belum terealisasi.
"Selama ini, kami sudah teriak penuntasan kasus, mulai dari meminta kepada Kapolri, meminta kepada Presiden, tapi sampai sekarang tidak ada hasilnya," ujar Yudi.
Karena lambatnya perkembangan kasus, WP pun mengajak untuk melakukan aksi diam.
2. Serikat pekerja KPK tetap menuntut dibentuk Tim Pencari Fakta

Serikat pekerja KPK bersama Koalisi Masyarakat Sipil tetap menuntut agar dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen. Sebab, pembentukan tim gabungan yang merupakan hasil dari laporan Komnas HAM dinilai hanya sekadar formalitas. Tim itu didominasi oleh polisi. Sementara, Novel bolak-balik menyatakan ada indikasi keterlibatan jenderal polisi di dalam kasus terornya.
"(Tetap meminta) agar dibentuk TGPF di bawah Presiden," ujar Yudi.
Belum diketahui apakah pimpinan KPK akan ikut dalam aksi solidaritas bagi salah satu penyidiknya itu.
3. Novel pesimistis kasusnya akan dituntaskan

Sementara, Novel sejak awal tidak yakin kasus terornya akan diungkap. Ketidakyakinan itu bahkan sudah ia sampaikan ke publik sejak 2017 lalu.
Bahkan, kata Novel, ada barang bukti yang hilang gara-gara penuntasan kasusnya berjalan lambat. Salah satu barang bukti yang hilang yakni sidik jari di dalam gelas, yang digunakan oleh pelaku untuk menyiram air keras ke wajahnya.
4. Novel Baswedan akan terus "bernyanyi"

Novel mengaku akan terus "bernyanyi" dan menyampaikan kisahnya secara terbuka di hadapan publik. Ia akan terus bersikap seperti itu hingga kasusnya terungkap.
Novel juga menolak untuk memberikan barang bukti ke Polri. Ia khawatir, barang bukti itu nantinya akan dihilangkan lagi.
"Bukti serangan kepada saya yang sangat terang benderang saja dihilangkan kok. Alat bukti sidik jari dalam gelas yang dipakai untuk serang saya dihilangkan. Bukti sidik jari di tempat lain juga dihilangkan," ujar Novel dalam diskusi publik di daerah Wahid Hasyim, Jakarta Pusat Februari lalu.



















