(Kantor Bupati Jayawijaya yang terbakar saat aksi unjuk rasa di Wamena, Jayawijaya, Papua, Senin (23/9/2019)) ANTARA FOTO/Marius Wonyewun
Kerusuhan di Papua pecah pasca-dugaan tindak rasial pada mahasiswa di Jawa Timur pertengahan Agustus lalu. Berbagai wilayah di Papua menggelar demonstrasi besar-besaran sejak Agustus hingga September. Sejumlah fasilitas umum dan korban jiwa berjatuhan.
Kasus kerusuhan terbaru terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, yang diduga berawal dari unjuk rasa siswa pada Senin (23/9), yang memprotes dugaan perkataan bernada rasial oleh seorang guru.
Aksi tersebut berakhir rusuh. Sejumlah rumah warga, kantor pemerintah, dan fasilitas umum lainnya dibakar. Korban jiwa mencapai 33 orang dan ribuan orang disebut-sebut mengungsi ke daerah lainnya di sekitar Wamena.
Sementara, dua terduga pelaku perusakan dan pembakaran kios-kios di Jalan Balusi, Distrik Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, pada Kamis (26/9), ditangkap aparat gabungan Polri dan TNI.
Bentrok antara massa dengan aparat TNI dan Polri di Expo Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, Senin (23/9) lalu juga menyebabkan seorang prajurit TNI tewas, yakni Praka Zulkifli Al Karim, anggota Raider Batalyon 751. Selain prajurit TNI meninggal, empat orang disebut-sebut mengalami luka-luka.
Bentrokan tersebut diduga terjadi saat massa yang sebelumnya berada di halaman Auditorium Universitas Cenderawasih (Uncen), diantar pulang oleh aparat menggunakan truk dan bus. Mereka adalah pelajar dan mahasiswa yang pulang dari berbagai daerah untuk menimba ilmu. Penyebab bentrokan ini masih dalam penyelidikan.
Demonstrasi hingga berujung kerusuhan pasca-dugaan tindak rasial di asrama mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 Agustus 2019 itu juga mengakibatkan kematian tiga orang, yaitu dua warga sipil dan satu prajurit TNI anggota Satuan Yonif Kaveleri/Serbu, Kodam II Sriwijaya Serda Ricson Edi Candra.
Serda Ricson meninggal dunia dengan luka bagian kepala, akibat terkena senjata tajam sejenis parang dan luka panah di bagian kepala. Dia meninggal saat mengamankan demonstrasi pada 19 Agustus 2019. Akibat kerusuhan ini, sejumlah bangunan dibakar seperti toko, kendaraan, dan gedung DPRD di Fakfak, Sorong, dan Manokwari.
Hingga kini, penyelidikan kasus kerusuhan pasca-dugaan tindak rasial pada mahasiswa Papua masih berlanjut hingga kini. Polisi juga sudah menetapkan puluhan tersangka dalam kasus kerusuhan di sejumlah wilayah di Papua.
Sementara, data Koalisi Masyarakat Sipil Papua (Ko Masi Papua) menyebutkan akibat kerusuhan selama Agustus-September, koalisi menemukan korban di antaranya dua orang tertembak dan 18 lainnya mengalami kekerasan fisik pada 21 Agustus di Timika. Pada hari yang sama di Fakfak, satu orang menderita luka tikam, satu orang terkena lemparan batu, dan satu lainnya terkena peluru nyasar.
Terkait kerusuhan di Deiyai pada 28 Agustus, Ko Masi Papua juga mendapati delapan warga sipil dan satu prajurit TNI meninggal dunia. Ada juga 17 orang menderita luka karena mendapatkan serangan fisik dan dua lainnya luka, yang diduga akibat ditembak aparat.
Sementara, kerusuhan yang terjadi pada 29 Agustus di Expo Waena menyebabkan dua warga sipil tertembak peluru nyasar, dan satu warga lainnya tertembak di Abepura usai demonstrasi.
"Keesokan harinya, 30 Agustus, setidaknya sembilan orang mengalami luka berat dan ringan karena senjata tajam. Sedangkan, seorang pemuda diketahui meninggal dunia," kata Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Papua Sem Awom, dalam keterangan tertulis, Selasa (17/9).
Pada 1 September 2019, terjadi penyerangan yang diduga dilakukan sekelompok masyarakat terhadap penghuni Asrama Mahasiswa Nayak I Kamkey, Abepura. Akibatnya, 17 orang mengalami luka-luka karena lemparan batu dan senjata tajam, serta dua orang meninggal dunia karena tertembak.