Jakarta, IDN Times - Jelang senja di depan Istana Merdeka, orang-orang berkaus dan membawa payung hitam berdiri tegak, mematung sekejap pada Kamis (3/10).
Spanduk dan poster yang berisi tuntutan permasalahan HAM yang belum tuntas terpajang di trotoar tidak jauh dari Istana Presiden. Permasalahan yang tak kunjung tuntas itu seperti Tragedi 1965, Tragedi Tanjung Priok, Talangsari, Trisakti, Semanggi I, Semanggi II, Papua, dan pelanggaran kasus HAM lainnya.
Salah satu individu yang setia mematung di depan Istana setiap Kamis adalah Maria Katarina Sumarsih. Sumarsih, begitu ia biasa disapa, merupakan salah satu penggagas aksi Kamisan di depan Istana. Ia menggelar aksi itu karena menagih janji pemerintah yang katanya hendak mencari pembunuh putranya, Bernadinus Realino Norma Irawan alias Wawan. Putranya merupakan salah satu korban penembakan saat tragedi Semanggi I terjadi pada 11-13 November 1998 lalu.
Ia tak lelah mencari keadilan bagi sang putra. Tak terasa sudah 12 tahun lamanya Sumarsih berdiri saban Kamis di depan Istana, berharap suatu saat pemerintah benar-benar menepati janjinya untuk memproses hukum pelaku penembakan terhadap Wawan. Lalu, apa aspirasi Sumarsih dalam aksi Kamisan kemarin?
