twitter.com/brg_indonesia
Sebagai upaya pencegahan dini terhadap kekeringan gambut, BRG memperkenalkan Sistem Pemantau Air Lahan Gambut (Sipalaga). Sistem ini memungkinkan pemantauan tinggi muka air (TMA) di ekosistem gambut secara langsung (real time). Sistem Sipalaga telah diperkenalkan BRG sebagai upaya preventif.
Sebanyak 142 unit Sipalaga sudah disebar untuk mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat kekeringan. Tujuh provinsi lokasi disebarnya unit Sipalaga yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua.
“Kita ingin menjaga lahan gambut tetap basah. Cara terbaik yaitu membangun sensor yang membaca lahan secara real time.” ujar Nazir.
Sensor yang bakal dipasang di setiap lahan gambut tersebut bisa mendeteksi tinggi muka air (TMA) dan kebasahan lahan gambut. Alat akan mencatat setiap satu jam. “Kalau ketinggian air turun terus dan BMKG memprediksi tidak hujan dalam 20 hari ke depan, kita bisa lapor pada satuan petugas (satgas). Kemudian satgas akan ke lokasi memantau keadaan lahan gambut. hasil laporan disampaikan pada pemerintah daerah agar dapat ditindaklanjuti,” papar Nazir.
Pada Februari 2019, BRG berencana akan menambah 30 unit Sipalaga di beberapa lokasi. Alat itu dipasang untuk mengurangi tingkat kerawanan kebakaran. Daerah yang akan mendapat tambahan unit ini adalah Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.