Jika biasanya IDN Times mewawancarai narasumber, kali ini kami meminta narasumber untuk membuat sebuah surat yang menceritakan langsung pengalaman mereka.
Surat ini datang dari seorang wanita istimewa yang sedang melayani saudara-saudara kita di Abepura, Papua. Wanita tersebut bernama Silvia Ajeng.
Silvia sudah bermimpi menjadi pekerja kemanusiaan sejak kecil. Berbagai pengalaman menjadi relawan pun sudah dia kantongi, hingga kini dia bekerja di sebuah LSM internasional bernama Wahana Visi Indonesia.
Silvia mendapat gelar Master of Arts in International Relations dari Universitas Gadjah Mada dengan mengambil fokus studi Diplomasi Kemanusiaan Global. Dari waktu 1,5 tahun di UGM inilah wawasannya tentang kemanusiaan semakin mendalam.
Namun, bagi Silvia, teori saja tidak cukup. Ia harus membagi ilmunya kepada sebanyak mungkin orang, terutama yang bisa memberi manfaat kepada masyarakat di pedalaman atau wilayah konflik.
Selebihnya, silakan baca surat dari Silvia berikut ini.
Halo...
Nama saya Silvia. Posisi saya saat ini ada di Abepura, Papua. Saya bekerja di Wahana Visi Indonesia sebagai Monitoring, Evaluation and Learning Coordinator di Port Numbay. Ini adalah tahun kedua saya melayani saudara-saudara di Papua.
Menjadi pekerja kemanusiaan memang merupakan mimpi masa kecil saya. Walaupun saya seorang wanita, saya ingin tinggal di daerah perang, konflik atau di pedalaman untuk melakukan sesuatu bagi teman-teman yang tergolong rentan seperti anak-anak, kaum difabel, perempuan, lansia dan kaum yang termarjinalkan lainnya.
Semasa menempuh pendidikan, terlibat sebagai relawan adalah panggilan jiwa. Misalnya, ketika SMA saya menawarkan diri untuk menjadi relawan di panti jompo dan panti asuhan. Di sana saya ikut membantu membersihkan bangunan hingga menjadi teman goyang campur sari.