Bukan Tentang Karir, Ini 5 Ketakutan Wanita Menjelang Pernikahan

Menikah menjadi fase yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua wanita. Bukan hanya karena ia bisa bersama dengan pria yang sangat dicintainya. Bukan pula karena ia bisa tampil cantik dengan makeup dan gaun yang diimpikannya. Tapi karena semua fase di hidup mereka akan berubah. Semua yang telah dipersiapkan selama ini seolah sudah siap dilakukan di depan mata. Setelah status berubah menjadi seorang istri.
Namun nyatanya tak semua wanita yang akan menikah benar-benar sudah siap menjalani kehidupan berumahtangga. Ada banyak yang membuatnya cemas, takut hingga stres sendiri menjelang pernikahan. Tak hanya soal karir yang harus ditinggalkan, ada beberapa alasan yang juga, seperti.
1. Masa adaptasi dengan keluarga baru yang tak mudah

Menikah bukan hanya fase perubahan status dari single menjadi seorang istri. Tapi juga masa di mana kita akan mendapatkan keluarga baru. Orangtua baru, adik atau kakak baru, dan semua saudara juga baru. Tak hanya mereka yang masih tinggal bersama mertua saja yang membutuhkan banyak waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.
Mungkin ada beberapa wanita yang sudah mengenal keluarga pasangan cukup lama, bisa beradaptasi dengan mudah. Tak butuh waktu lama untuk bisa merasa nyaman di lingkungan yang baru. Tapi tak begitu dengan sebagian dari wanita lainnya. Yang harus bersusah payah mengenal satu per satu anggota keluarga. Memberanikan diri mengajaknya berbicara hingga harus bersiap dengan segala ucapan yang terkadang membuatnya sakit hati.
2. Ketidakpercayaan diri merawat keluarga

Salah satu tugas seorang istri memang merawat dan mengelola keluarganya dengan baik. Bukan, bukan berarti wanita tak boleh bekerja di luar, tak bisa melanjutkan mimpinya dan terkungkung di rumah hanya untuk melayani keluarganya. Hanya saja tugas yang tak bisa terelakkan adalah merawat rumah.
Namun ternyata sebaik-baiknya persiapan seorang wanita sebelum menjadi seorang istri, mereka tetap akan merasa cemas dengan kemampuannya dalam merawat dan melayani keluarganya. Tak semua yang sudah dipelajari sebelumnya, bisa dengan mudah diterapkan di awal-awal masa pernikahan. Sebab akan ada banyak situasi dan kondiai yang berbeda dari yang diduga.
3. Waktu bersama keluarga dan teman menjadi berkurang

Mengubah status dari single menjadi seorang istri. Memiliki keluarga baru, tugas baru dan mungkin lingkungan baru, tentu akan ada banyak yang berubah dari hidup kita. Salah satunya adalah kebersamaan dengan keluarga dan teman lama. Terlebih saat kita harus mengikuti suami ke luar kota untuk bekerja. Jarak yang tak biasa dialami oleh keluarga dan teman. Waktu yang selalu ada untuk kegiatan bersama. Kini akan menjadi berkurang.
Namun itu semua masih bisa teratasi saat kita bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Terlebih ada sosial media yang semakin hari semakin canggih. Sehingga tak ada yang tidak mungkin jarak yang jauh pun bisa untuk mengobati kerinduan.
4. Tak ada kesempatan meraih mimpi

Beberapa wanita yang memilih menikah di usia muda, akan merelakan sekolah atau bahkan karir yang sedang dirintisnya. Tentu saja dengan bergolakan batin yang tak biasa. Tak mudah meninggalkan setiap aktivitas yang rutin dilakukan, keceriaan bersama teman-teman sampai aktivitas yang sangat dicintai meski cukup melelahkan. Semua menjadi salah satu faktor kecemasan seorang wanita yang akan menikah.
Terlebih ada pula yang mulai cemas, di mana mereka takut tak mampu meraih mimpi yang sudah lama dimiliki. Melanjutkan sekolah ke jenjang tang lebih tinggi, mencoba karir yang selama ini diinginkan, hingga berlibur dan menikmati waktu dengan orang-orang yang dicintainya. Ada banyak yang dicemaskan, hingga mungkin tak jarang mampu membuatnya stres karena terlalu memikirkan. Ya, tak salah juga, sebab setiap wanita pun berhak memperjuangkan mimpinya. Sekecil apapun itu.
5. Tak ada waktu untuk diri sendiri

Setelah menikah nanti, semua yang dilakukan harusnya untuk keluarga, harus atas izin suami dan tak bisa seenaknya kita. Beberapa wanita akan menjadi sangat cemas, mereka takut tak punya waktu untuk diri mereka sendiri. Mereka banyak merasa tak akan ada waktu bagi mereka untuk sekedar istirahat, jalan-jalan sampai makan sendirian di luar. Sama seperti yang mungkin sering dilakukan saat masih sigle.
Namun semua itu tak benar. Akan tetap ada waktu bagi kita untuk menikmati waktu sebagai seorang wanita. Kita bisa menggunakan waktu libur atau waktu tertentu. Yang membedakan hanyalah keberadaan suami yang menggantikan peran orangtua untuk tahu aktivitas anaknya.
Kalau masih takut menghadapi lima hal di atas, mungkin ada baiknya kamu memikirkan kembali keputusan untuk menikah itu. Kamu yang tahu kapan waktunya, jangan sampai menyesal akan keputusan yang sudah terlanjur kamu buat.


















