Seuntai rasa syukurku atas kebahagian bersama kalian.
Ayah dan ibu, anakmu ini telah menginjak angka 25.
Waktu begitu cepat berlalu. Perlahan tapi pasti, waktu tak pernah bisa berkompromi dengan keinginanku. Tak terasa seperempat abad aku bersama kalian. Masa-masa yang kuhabiskan bersama kalian terasa begitu berhaga dan tak kan tergantikan oleh apapun. Di usiaku yang seperempat abad ini, aku belum bisa membuat kalian bangga terhadap diriku. Aku belum bisa mampu berdiri sendiri tanpa kalian. Bolehkah waktu aku putar kembali agar aku lebih lama lagi bersama kalian?
Kini, usiaku memasuki usia 25. Usia perak! Usia yang (katanya) orang merupakan awal untuk meniti masa depan. Usia yang (katanya) lagi-lagi tak pantas lagi untuk bermanja-manja lagi pada kalian, ayah dan ibu. Usia, yang menurut pendapat orang, sudah pantas untuk mulai membina rumah tangga dengan seseorang yang aku pilih. Haruskah aku mendengarkan semua pendapat orang? Sedangkan aku merasa selalu ada kalian yang siap mendukung keputusanku!
Di usiaku yang ke-25 tahun ini aku belum sepenuhnya mampu untuk mewujudkan angan-angan kalian. Banyak di luar sana yang seumur denganku sudah menggapai mimpinya. Pandangan orang lain, seharusnya aku sudah memperoleh pekerjaan yang mapan, pendapatan yang mumpuni, serta kehidupan cinta yang sebentar lagi akan melangkah ke jenjang pernikahan. Sederet kriteria itulah menurut prinsip mereka seharusnya ada pada diriku.
