Tentang Dirinya yang Paling Erat Menggenggam Tanganmu, Namun Kamu Terlambat Menyadarinya

Artikel ini merupakan hasil karya peserta kompetisi menulis #CintaDalamKata yang diadakan oleh IDNtimes.com. Kalau kamu ingin artikelmu eksis seperti ini, yuk ikutan kompetisi menulis #CintaDalamKata! Informasi lebih lengkapnya, kamu bisa cek di sini.
Pada akhirnya, kita baru sadar arti keberadaan seseorang itu ketika ia telah pergi. Semua yang pada awalnya kita sepelekan, perlahan mulai kita cari. Satu demi satu momen yang kita lalui kini mulai kita pahami. Dulu, dia begitu jauh dari pandangan kita, padahal sesungguhnya dia yang selalu ada di samping kita.
Tanpa kita sadari, di setiap momen yang ada mulai dari sedih sampai bahagia, dia ada di sana. Di samping kita, menggenggam erat tangan kita, mencari jalan agar sedih itu berubah menjadi tawa.
Padahal alasan kesedih itu bukanlah dia, tapi karena orang lain. Dia paham tentang alasan itu, namun dia tetap bertahan di samping kita. Bertaggung jawab atas luka yang orang lain berikan kepada kita. Dengan susah payah dia mengobati luka sedih itu menjadi tawa bahagia. Ini terjadi berulang kali. Terus menerus hingga rasa sabar yang dia miliki semakin besar.
Kita hanya memandangnya hanya sebagai sahabat, namun sebenarnya dia mengharap lebih.

Kesabaranya dalam bertahan itulah yang tak pernah kita sadari. Bak gajah di peluk mata tak terlihat, namun semut di seberang lautan terlihat. Kita hanya melihat orang lain yang menurut kita ada di depan mata kita, padahal sebenarnya ada yang lebih dekat dengan kita. Karena terlalu sibuk sendiri, kita yang menganggapnya kasap mata.
Ya, kebodohan itulah yang kita buat. Kita hanya memandangnya sebagai seorang sahabat. Sahabat yang selalu membantu dan ada di saat kita butuhkan. Tapi yang sebenarnya dia harapkan lebih dari sekedar sahabat.
Alasan dia rela berkorban untuk kita sesungguhnya itu semua karena cinta. Satu kata yang penuh makna. Cinta yang sederhana, dengan tulus ia berikan dengan perhatian dan kasih sayang tanpa meminta balasan.
Sebenarnya dia juga ingin meminta balasan, tapi dia tahu kalau kita mengharapkan balasan orang lain yang jelas-jelas tidak membalas kita. Maka dari itu dengan sabar dia menunggu kita yang tidak tahu kapan akan mulai melihat dia lebih dari seorang sahabat.
Rasa sakitnyalah yang membuatnya menyerah. Perlahan-lahan, dia melepaskan genggamannya.

Kesabaran itu terjaga dalam waktu lama. Namun semakin hari kesabaran itu sepertinya tidak berbuah sesuai yang dia harapkan. Itu semua karena kita yang terlalu mengejar orang lain tanpa tahu kalau dia selalu mengikuti kita dari belakang. Demi kita yang dia khawatirkan terluka lagi, tanpa dia sadari itu malah membuat dirinya sendiri yang terluka.
Awalnya luka itu selalu dia hiraukan, namun lama kelamaan beban rasa sakit hati itu perlahan mulai terasa. Rasa sakitnya bertepuk sebelah tangan, melihat orang yang dia cinta malah mengejar orang lain, tanpa sadar kau dia juga sedang mengejar kita. Sakit inilah yang membuatnya menyerah, merelakan kita pergi untuk orang lain.
Perlahan dia mulai melepaskan genggamman tangannya pada kita. Mulai menjauh, mengacuhkan setiap masalah yang kita ceritakan. Dan masa bodoh dengan masalah yang kita hadapi. Padahal dulunya dia selalu antusias dengan cerita apapun yang kita curahkan. Bahkan ia selalu membantu kita mencari jalan keluar bila ada masalah yang kita hadapi. Dan kita mulai merasa ia benar-benar jauh dari pandangan kita.
Saat semua sudah terlambat, kita baru menyadari bahwa genggaman tangannya kali ini untuk orang lain.

Pada saat inilah kita sadar, bahwa sebenarnya dia selalu ada untuk kita. Dimanapun, kapanpun. Dan kini kita tahu bahwa alasannya bersikap sangat baik bukanlah karena kepeduliaanya sebagai sahabat. Tapi karena ia adalah seorang lelaki yang sangat baik dan tulus mencintai bahkan rela memberikan kebahagiaan hanya untuk kita.
Di saat inilah kita baru ingin berbalik arah dan mengejar dia yang sudah sangat jauh berlari pergi. Semakin cepat kita berlari kearahnya semakin jelas pula mata ini melihat sosok yang dulu selalu kita abaikan.
Dan saat kita sudah tepat di depan sosok ini, tiba-tiba mata ini menjadi buram. Ada sesuatu yang menggangu pandangan ini. Samar-samar terlihat sosok yang sudah lama kita kejar. Dengan sekali kedipan, semuanya terlihat sangat jelas.
Wajah yang dulu dengan senyum tipis menahan beban kesabaran, kini telah menjadi wajah dengan senyum lebar, gigi yang terlihat dan tanpa beban. Perlahan kini kita perhatikan tangan yang kemarin melepas genggamnya dari tanganmu, kini sudah kembali menggenggam lagi.
Pemandangan ini tiba-tiba menjadi buram kembali. Saat kita kedipkan sekali lagi mata ini, terlihat dengan jelas sosok dia yang sangat kita rindukan keberadaanya dan perhatiannya. Namun seketikan air mata yang menghalai mata ini menetes. Disertai dengan rasa sesak yang teramat dalam di dada.
Makin lama makin terasa deras mengalir. Seketika kita tersadar bahwa dia telah menggenggam tangan yang lain. Bukan tangan kita. Dengan sangat erat dan senyum bahagia.
#CintaDalamKata
