Tak Perlu yang Sempurna untuk Menjadi Pendampingku, Cukup Kamu Saja

Kau dan mereka terlalu sibuk mencari kelemahanmu, kelemahan-kelemahan yang sering dilontarkan orang tuaku terhadapmu, kelemahan-kelemahan yang membuatmu merasa tak pantas bagiku. Sungguh, aku tak menginginkan sosok sempurna yang kau dan mereka gadang-gadang lebih layak menjadi pendampingku dibandingkan kau. Karena aku tahu pasti bahwa kaulah yang kuinginkan.
Meski kau tak sempurna, tapi aku bahagia dicintai olehmu dengan segala yang kau miliki.

Kau mengajarkan arti cinta yang sejatinya padaku, cinta yang selalu berusaha memberikan dan menjadi yang terbaik, cinta yang sudi untuk menunggu dan berjuang bersama, cinta yang tetap saja terasa manis meski dalam kepahitan sekalipun. Namun tetap saja, kau selalu tak percaya diri bahwa kau sudah menjadi yang terbaik. Ya, aku tahu kenapa kau merasa demikian, itu karena kau sungguh mencintaiku.
Kau rela menghabiskan waktumu untuk mendengar segala keluh kesahku, memberikan perhatian untuk hal-hal kecil hingga terkadang aku heran betapa detilnya kau memperhatikanku, mendukungku melakukan hal-hal yang menopang masa depanku. Setelah sekian banyak waktu yang terlewati dan segala moment yang terjadi, aku mampu menjadi seperti saat ini tak lepas dari peranmu dalam hidupku.
Aku mengerti bahwa ini sulit bagi kita, namun bukan berarti menggantikanmu menjadikan semuanya lebih mudah.

Meskipun saat ini kita seperti berada di jalan buntu, jangan merasa bahwa ini akhir. Aku percaya padamu bahwa kau sungguh-sungguh ingin menjadi “rumah” bagi hatiku, menghabiskan setiap waktu ku dengan tawa dan senyuman. Kita hanya perlu sedikit bersabar untuk membuka jalan, tak ingatkah kau bahwa kita pernah berjanji satu sama lain untuk saling melengkapi dan memperjuangkan. Kau sudah memenuhi janjimu, maka sekarang biarkan aku yang memenuhi janjiku untuk memperjuangkanmu di depan orang tuaku.
Tahukah kau bahwa genggaman tanganmu mampu membuatku merasa sangat bahagia?

kali aku terlihat dekat dengan orang lain yang kau anggap lebih baik darimu, kau selalu berkata bahwa seharusnya dia menjadi pasanganku dan orang tuaku pasti suka terhadapnya. Kau harus percaya bahwa aku akan berjuang bersamamu, selalu menjadikanmu yang terbaik bagiku. Dan sungguh, hal itu bukanlah perkara sulit bagiku, karena saat menggenggam tanganmu aku siap menghadapi apapun. Sekalipun harus menghadapi pertentangan orang tuaku.
Jadi jangan pernah lepaskan genggamanmu. Sebaliknya, genggamlah lebih kuat.

Genggamlah lebih kuat lagi, agar mereka menyadari bahwa tak ada hal yang memisahkan kita. Bukankah cinta sanggup meleburkan kebencian, ketidaksukaan dan permusuhan? Sebagaimana air mampu menghentikan kobaran api. Mereka memang sedikit kasar padamu, namun aku mengenal orang tuaku.
Dibalik kalimat-kalimat kasar mereka, terselip ketakutan tentang masa kehidupanku kelak. Dan itu karena mereka mencintaiku, sama sepertimu. Buatlah mereka percaya seperti membuatku percaya padamu meskipun hal tersebut akan melelahkanmu, aku bersamamu.
Kekuranganmu di mata orangtuaku, sama sekali bukanlah hal yang perlu kau pikirkan.

Kau pasti tahu bahwa di mata orang-orang yang tak menyukai diri kita, selalu ada kekurangan-kekurangan yang bagi mereka. Aku memahami perasaanmu, betapa tak enaknya selalu dianggap tak pantas dan “kecil” terlebih oleh orang tua dari sosok yang kau cintai. Dan mungkin diriku terkesan egois karena selalu menahanmu untuk pergi dan memintamu berjuang bersama. Kau tahu mengapa? sebab aku terlampau jatuh cinta kepadamu, terlampau menyukai pelukan hangatmu, terlampau jauh berharap pada hubungan kita.
Dirimu yang disebut tak layak bagiku adalah sosok yang benar-benar kuinginkan.

Cukuplah dirimu, dengan segenap adanya dirimu. Aku mengenalmu lebih dari yang mereka tahu tentang dirimu, sebesar apa cintamu dan sekuat apa kau memaksakan dirimu untuk memantaskan dirimu di hadapan orang tuaku. Jangan memutuskan untuk pergi, sedikitpun jangan berfikir demikian.
Berjuanglah bersamaku hingga tak ada lagi waktu untuk kita berjuang bersama, aku ingin membesarkan anak-anak kita, mendapati wajahmu di setiap pagiku. Sederhanya, aku ingin menua bersamamu.
Tulisan ini adalah kiriman dari IDN Community. Kalau kamu ingin mengirimkan artikelmu, kirimkan ke community@idntimes.com


















