Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

    Berjarak dengan kekasih atau orang yang kita sayang memang sering membuat perasaan jadi kelu. Ada saja ungkapan yang ingin disampaikan. Entah ungkapan rindu atau ungkapan terhadap jarak yang memisahkan.

    Ada juga yang ingin mengungkapkan perasaan mereka yang lalu ikut berjarak. Namun hal itu tak bisa diungkapkan secara gamblang. Ada puisi yang mewakilinya. Apa saja?

    1. Joko Pinurbo – Perjalanan Pulang

    .…

    Ah padang pasir.
    Panasmu ingin menghanguskan perkemahan.
    Kau pikir para pengungsi mau dilumat kelaparan?
    Lihatlah, sungai itu tetap saja hijau.
    Kematian dienyahkan ke bukit-bukit karang,
    kanak-kanak bermain terompet di lubang persembunyian.

    Katakan pada ibu, si buyung mau lebih lama merantau.
    Rumah itu mungkin akan selalu menanyakan kepulangan,
    pintu-pintu minta kiriman kisah petualangan.
    Aduh sayang, jarak itu sebenarnya tak pernah ada.
    Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.
    ….

    2. Adimas Immanuel – Kelebat

    Kita memang tak bisa menyiasati pertemuan
    Usia bisa menggambar pelukan demi pelukan
    Tanpa bingung mempertegar lekuk bayangan

    Tiap hari segera padam dan kepastian melesat
    Memiuh-miuh nasib kita: sepasang anak burung
    yang kedinginan mengenali bahaya

    Kita memang tak bisa mengekalkan perjumpaan
    Ingatan bisa menggambar kecupan demi kecupan
    …..

    3. Aan Mansyur – Di Bandara Itu

    Kau tertegun di muka pintu

    Udara biru
    Dingin dan buas: laut
    Yang dalam dan haus
    Meminum habis tubuhmu yang bening dan gemetar

    Aku menarik tubuhku
    Yang pengecut menjauh dari pantai. Menjauh.
    Menjauh. Aku takut teresat
    Ombak dan turut
    Tenggelam.

    4. Aan Mansyur - Pukul 4 Pagi

    Tidak ada yang bisa diajak berbincang.

    Dari jendela kau lihat bintang-bintang sudah lama tanggal.
    Lampu-lampu kota bagai kalimat selamat tinggal.
    Kau rasakan seseorang di kejauhan menggeliat dalam dirimu.
    Kau berdoa: semoga kesedihan memperlakukan matanya dengan baik.

    Kadang-kadang, kau pikir, lebih baik mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang.
    Jika ada seorang telanjur menyentuh inti jantungmu,
    Mereka yang datang kembali hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan.

    Dirimu tidak pernah utuh. Sementara kesunyian adalah buah yang menolak dikupas.
    Jika kau coba melepas kulitnya, hanya akan kau temukan kesunyian yang lebih besar.

    Pukul 4 pagi. Kau butuh kopi segelas lagi.

    5. Yang Fana Adalah Waktu – Sapardi Djoko Damono

    Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
    Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
    Sampai pada suatu hari
    Kita lupa untuk apa
    “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
    Tanyamu. Kita abadi.

    6. Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono

    Tak ada yang lebih tabah
    Dari hujan bulan Juni
    Dirahasiakannya rintik rindunya
    Kepada pohon berbunga itu
    Tak ada yang lebih bijak
    Dari hujan bulan Juni
    Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
    Yang ragu-ragu di jalan itu
    Tak ada yang lebih arif
    Dari hujan bulan Juni
    Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

    7. Pada Suatu Hari Nanti - Sapardi Djoko Damono

    Pada suatu hari nanti

    Jasadku tak akan ada lagi
    Tapi dalam bait-bait sajak ini
    Kau takkan kurelakan sendiri

    Pada suatu hari nanti
    Suaraku tak terdengar lagi
    Tapi di antara larik-larik sajak ini
    Kau akan tetap kusiasati

    Pada suatu hari nanti
    Impianku pun tak dikenal lagi
    Namun di sela-sela huruf sajak ini
    Kau takkan letih-letihnya kucari

    8. Dewi Lestari – Aku Ada (Digubah Jadi Lagu)

    Melukiskanmu saat senja

    Memanggil namamu ke ujung dunia
    Tiada yang lebih pilu
    Tiada yang menjawabku selain hatiku
    Dan ombak berderu

    Di pantai ini kau slalu sendiri
    Tak ada jejakku di sisimu
    Namun saat ku tiba
    Suaraku memanggilmu akulah lautan
    Ke mana kau s'lalu pulang

    Jingga di bahuku
    Malam di depanku
    Dan bulan siaga sinari langkahku
    Ku terus berjalan
    Ku terus melangkah
    Kuingin kutahu engkau ada

    Memandangimu saat senja
    Berjalan di batas dua dunia
    Tiada yang lebih indah
    Tiada yang lebih rindu
    Selain hatiku
    Andai engkau tahu

    Di pantai itu kau tampak sendiri
    Tak ada jejakku di sisimu
    Namun saat kau rasa
    Pasir yang kau pijak pergi akulah lautan
    Memeluk pantaimu erat

    Jingga di bahumu
    Malam di depanmu
    Dan bulan siaga sinari langkahmu
    Teruslah berjalan
    Teruslah melangkah
    Ku tahu kau tahu aku ada

    9. Anonim – Sejauh Kilometer

    Sejauh kilometer

    Imajinasi mengurai parasmu
    Dalam haru yang terlanjur pilu
    Sebab debur rindu terlampau beku

    Sejauh kilometer
    Angin menyapu bayangmu
    Menjadi butir debu yang tampak kelabu
    Sebab hati terlampau angku

    Sejauh kilometer
    Dalam desau yang terdengar parau
    Aku menceracau

    Segera ambil kertas dan kutip puisi ini untuk disampaikan ke dia. Ungkapkan betapa rindunya kamu dengannya.

    Editorial Team

    Related Article

    ARTIKEL TESTING NOTIF 227 Mei 2026, 10:30 WIBLife
    Article Test04 Mar 2026, 09:09 WIBLife