Maaf, Aku Tak Akan Merindukanmu Lagi di Tahun 2016

Hey kamu,
Aku menghabiskan setiap hari sepanjang 2015 dengan merindukanmu.
Sebenarnya tak perlu keras-keras kuluapkan: bahwa aku menghabiskan sepanjang tahun dengan terjebak dalam kenangan. Bahkan ketika kehidupanku berkembang dengan pesatnya. Kau masih selalu berkeliaran di kepala.
Seharusnya aku tak perlu berlebihan seperti itu. Seharusnya aku lebih sanggup untuk membebaskanmu. Membalaskan dendam dengan melupakan semua kesedihan, penolakan, kesendirian, dan luka.
Aku menghabiskan setiap hari sepanjang 2015 berusaha keras untuk beranjak dari kesedihan, namun kenyataannya aku malah semakin terjebak.

Aku merindukanmu ketika kita masih bersama. Aku merindukanmu di setiap momen, di setiap kenangan akan hal-hal kecil yang bahkan tak kamu sadari. Di setiap kalimat manis yang keluar dari bibirmu. Di setiap sapaan pagimu yang merdu. Di setipa percakapan yang membuatmu amat merindu..
Aku ingat semua, bahkan setelah kamu pergi untuk sekian lamanya. Aku menanti kehadiranmu di sela makan siang. Menyapaku dengan mesra ketika matahari perlahan nampak dan kemudian semesta menjadi jelas terlihat di sekitarku.
Aku menghabiskan tiga ratus enam puluh lima hari tanpamu dan aku seratus persen merindukanmu.

Kupikir aku akan terus seperti ini, namun rasanya aku semakin tak mampu lagi menahan rindu menyebalkan ini. Jadi kuputuskan, 2016 adalah penanda bahwa aku tak akan lagi merindukan sosokmu di sisiku.
Memang tak akan semudah itu -- bahwa cintamu terhadap seseorang tak akan luntur dengan mudah meskipun jarum jam di akhir tahun telah bergerak ke awal baru. Aku tahu bahwa perasaan ini akan terus berkecamuk di dalam pikiranku sebelum akhirnya kamu tak lagi mengganggu isi otakku. Namun ada hal yang kuingin kamu tahu. Tahun 2016 adalah tahun saat aku akhirnya memutuskan untuk berhenti menyakiti diri sendiri. Menciptakan sakit dengan merindukanmu setiap saat.
2016 adalah tahun dimana aku berhenti membandingkan setiap orang yang kutemui denganmu. Karena akan lebih mudah untuk mencampakkan mereka begitu saja daripada benar-benar menjalin hubungan dengan mereka.
2016 adalah tahun dimana akhirnya aku menerima diriku seutuhnya dan memilih untuk memerjuangkannya. Aku tahu bahwa rasanya tak mungkin lagi untuk mengurus hal-hal yang telah terjadi.
Ini adalah tahun saat kemenanganku hanya milikku seorang. Karena setiap tantangan dan kemenangan yang aku dapatkan tak ada hubungannya dengan hadirmu. Kamu yang tak lagi kurasa.

Ini adalah tahun untuk aku akhirnya menerima setiap kemenangan dan kegagalanku sendiri. Tahun untuk aku benar-benar tahu bahwa aku mampu.
Tahun ini adalah tahun dimana aku akan benar-benar ada.
Dimana aku akan menggandeng tangan seseorang dan tak akan membandingkannya dengan genggamanmu. Dimana aku akan memulai hal baru dan tak akan peduli jika ada orang yang tak menyukai. Dimana aku akan merencanakan masa depan secara matang-matang, karena masa depanku hanya aku yang tahu. Dan dimana aku akhirnya membiarkan diriku sendiri mengambil alih setiap aspek kehidupan yang ada dan mengubahnya menjadi sesuatu yang menakjubkan.
Dan ketika dentang jam hampir mendekati akhir 2015, kuharap kamu juga bahagia di sana. Kuharap kamu juga menggenggam tangan yang sama hangatnya. Dan memeluk seseorang yang tak akan melepaskanmu seperti aku dulu.
Waktu berganti. Jarum jam tak mampu membuat kita kembali. Kuharap kamu bahagia di 2016. Karena aku telah mampu untuk menjadi diriku yang sebenarnya.
Dan aku tak punya sisa waktu untuk ragu padamu. Aku tak punya lagi waktu untuk tenggelam dalam kenanganmu.













