Budi dan Fraya menamatkan studi tepat waktu setelah lalui banyak lika-liku, termasuk lika-liku percintaan. Di hari wisuda, mereka tak perlu lagi pendamping wisuda. Mereka sudah saling mendampingi. Hanya saja, pertemuan kedua orangtua mereka pun masih terdengar dingin.
Tak perlu banyak menunggu untuk mereka. Masing-masing langsung menerima pekerjaan idaman. Sayang, Budi harus ke ibukota. Sedangkan Fraya tetap bekerja di kotanya. Dengan banyaknya tuntutan kerja dan tanpa restu orangtua, hubungan mereka harus terhenti di situ saja.
Kesepian mulai menghampiri Budi dan Fraya. Dengan hati-hati, ia kembali menghubungi Fraya setelah perasaan rindunya memuncak.
“Hai, Budi! Apa kabar? Aku baik-baik di sini. Kamu bagaimana?”
Sebaris kalimat lewat Whatsapp itulah yang menumbuhkan cinta mereka lagi. Mereka sadar, tidak bisa melepaskan diri masing-masing. Mereka sadar, bahwa banyak yang berhasil mereka lalui di masa lalu.
Kemudian, mengapa harus menyerah? Bukankah cinta seharusnya saling memperjuangkan.
Sebulan kemudian, Budi melangkah ke daun pintu rumah Fraya. Tanpa persiapan, di hadapan kedua orangtua Fraya, meminta izin. Izin meminang Fraya. Suasana sempat membeku.
Tapi kebijaksanaan mungkin telah menghampiri kedua orangtua Fraya. Setelah melihat betapa Fraya dan Budi saling memperjuangkan, apalagi setelah sempat digempur jarak, luluhlah mereka. Banyak perubahan pada Budi yang ia lihat, yang mereka kira sanggup mengayomi Fraya.
Selepas pertemuan itu, di muka pintu Budi kembali berlutut. Dengan menengadah dan menatap mata Fraya, dikatakannya “Maukah kamu menjadi teman hidupku selamanya?”
Jawab Fraya:
“Karena kamu telah memperjuangkanku dengan amat susah payah, kumohon jangan pernah membuat hatiku patah. Aku... MAU!”