Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App

Kepada Ayah, di mana pun Ayah berada saat ini.

Apakah Ayah sehat? Aku ingin mengatakan beberapa hal ini kepadamu, Ayah.

 

Pertama,

Terima kasih telah membawaku ke dunia dan menjadi pria pertama yang selalu mencintaiku hingga akhir hayat nanti. Terima kasih telah menjadi pria pertama yang rela melakukan apa saja untuk menghadirkan senyum di wajahku.

Default Image IDN
Default Image IDN
Default Image IDN

Tapi Ayah, maafkan aku kalau aku harus jujur.

 Ada kalanya aku merasa kecewa dengan dirimu. Ada saatnya hatiku hancur ketika menemukan fakta bahwa Ayah hanyalah manusia biasa, bukan seorang super hero yang selalu aku jagokan di masa kecilku.

Saat aku melihat Ayah, entah sengaja atau tidak menyakiti Ibu.

Saat aku menemukan kebohongan Ayah. 

Saat aku kadang merasa Ayah temanku lebih keren dan lebih hebat darimu.

Saat aku merasa Ayah adalah orang paling kuno dan memalukan.

Saat aku dan egoku merasa Ayah bersikap tidak dewasa. 

 

Di atas itu semua, aku sadar…

Ketika aku duduk di pangkuanmu, memutar-mutar pita kaset favoritmu hingga isinya keluar semua. Ketika aku memecahkan piringan hitam yang mungkin bagiku tak bernilai, tapi sangat berharga bagimu.

Default Image IDN

Ketika aku berteriak dan menjerit di depanmu, merengek meminta mainan yang ternyata harganya begitu mahal.

Ketika aku malas pergi ke sekolah, tak menggubris 1.000 nasihatmu yang mengatakan bahwa sekolah sangat penting bagi masa depanku.

Ketika aku membuang makanan, di saat diriku tak tahu bahwa makanan itu adalah hasil jerih payahmu.

Ketika aku melanggar aturan yang sudah kau tetapkan soal jam malam.

Default Image IDN

Ketika aku lebih memilih apa yang kuyakini benar dibandingkan pengalaman dan nasihatmu.

Default Image IDN

Saat itu mungkin Ayah merasa kesal dan ingin memarahiku, tapi Ayah lebih memilih untuk membereskan kekacauan yang telah kuperbuat.

Saat itu mungkin Ayah ingin memukulku, tapi Ayah hanya berkata, “Kamu tidak apa-apa, nak?”

Saat itu mungkin hati Ayah benar-benar ingin membelikanku mainan, tapi aku yang tidak tahu bahwa untuk menghidupi keluarga sehari-hari saja benar-benar sulit.

Saat itu mungkin Ayah menghela napas dan kecewa dengan diriku, tapi Ayah tetap menyemangatiku agar aku selalu semangat di pagi hari.

Saat itu mungkin Ayah lebih memilih untuk diam dan menghabiskan sisa makananku, diikuti nasihat panjang lebar Ibu yang melarangku membuang makanan.

Saat itu mungkin Ayah khawatir setengah mati dan tidak bisa tidur menanti anaknya tiba di rumah dengan selamat.

Saat itu mungkin Ayah sedih dan berpikir, “Apa anakku sudah dewasa dan akan segera meninggalkanku?”

Default Image IDN

Terima kasih Ayah karena engkau adalah pria yang paling memaklumiku.

Terima kasih Ayah karena engkau masih mau menggandengku meski aku sering ingin berlari menjauh darimu.

Default Image IDN

Terima kasih Ayah karena engkau tidak pernah mengataiku bodoh atas semua pilihanku yang tidak sesuai prinsipmu.

Default Image IDN

Terima kasih Ayah karena telah membukakan cakrawala dan membawaku melihat dunia.

Terima kasih Ayah karena engkau menjadi pria yang selalu berdiri di depan pintu untuk menunggu anakmu kembali ke rumah.

Terima kasih atas kasih sayang yang tidak pernah habis.

Default Image IDN

Terima kasih sudah berjuang keras di luar sana demi keluargamu.

Terima kasih karena telah mengajarkan kejujuran, syukur dan perjuangan.

Terima kasih telah mengajarkan padaku tentang pentingnya menjadi manusia yang terus belajar. 

Terima kasih karena telah mengizinkan aku menempuh kuliah sesuai bidang yang aku mau tanpa membatasi keinginanku.

Terima kasih karena Ayah juga mengizinkan aku bekerja sesuai bidang yang aku pilih, tanpa memaksakan harus A atau harus B.

Terima kasih karena bersama-sama Ibu, Ayah telah memberiku kaki untuk berdiri tegak, sayap untuk terbang, dan membuka ruang tanpa batas untuk dieksplorasi. 

Terima kasih, karena engkau sudah memilih dan mengusahakan menjadi Ayah yang terbaik dalam segala keterbatasanmu.

Default Image IDN

Setiap tahun berganti, cuma satu doaku, agar tahun depan aku bisa merayakan pergantian tahun lagi bersamamu dan Ibu.

Ayah, sehat-sehat ya! Aku sayang Ayah.

 

Dari anakmu,

yang meski tak banyak mengatakannya, tapi selalu memikirkanmu.

Editorial Team