“Aku cuma ingin kamu segera pulang, hanya itu. Tidak lebih. Apa itu susah?”
“Bukan seperti itu, memang belum saatnya aku pulang. Bersabarlah, tahan sedikit lagi rindumu, aku pun juga ingin segera bertemu”
Tak jarang, hanya karena kau tidak menghubungiku, semua fikiran jelekpun tercurahkan kepadamu. Klasik memang, tapi harusnya kau tahu bahwa membuat wanitamu selalu berkutat dengan rasa gelisah itu tidak baik dan tidak boleh kau lakukan. Suatu hari kau berbincang sebuah kisah indah di masa depan denganku, kau berkata akan membawakan sebuah cincin dan memasangkannya di jari manis kecil milikku.
Indah memang, bahagia memang jika hal itu bisa terwujud. Tapi lagi-lagi ragu itu muncul, apakah kita bisa mewujudkan semua itu, jika kau tetap saja jauh dariku. Ingin rasanya aku mengibarkan bendera putih dalam kisah ini, sebagai tanda aku ingin menyerah.
Kau bilang, bahwa di sana kau sedang berusaha keras untuk masa depan kita, kau bilang bahwa disana tiada lagi selain aku, kau bilang kita akan selalu berjuang bersama, bahkan kau bilang aku akan selalu jadi satu-satunya dan tiada dua.
Hai priaku, kau tahu ‘kan kalau wanita itu makhluk yang tidak mudah untuk percaya. Baiklah, kali ini jangan hanya berjanji sayangku. Buktikanlah, buktikan bahwa memang kau sedang berusaha untuk kita di masa depan. Buktikan bahwa hanya aku wanita yang sedang kau perjuangkan.