Hai Priaku yang Sedang Berjuang untuk Masa Depan Kita. Anganku, Inginkan Kita Segera Melepas Rindu

Pukul 20.00 WIB
“Jangan lupa jaga kesehatan ya, aku merindukanmu. Cepat pulang ya.”
Pukul 23.00 WIB
“Hallo sayang, terima kasih udah selalu mendukung dan mendoakanku. I love you.”
Ya, satu pesan darinya mungkin berarti bagimu yang sedang menjalani LDR. Ejekan dari mulut usil di luar sana mungkin akan selalu kau dapatkan dan kesepian yang di bungkus dengan kerinduan pun sudah menjadi teman baikmu setiap hari. Tenang, kau tidak akan lelah jika kau menjalaninya dengan orang yang juga mau menjaga hatinya, hanya untukmu. Ini surat terbuka dariku, untukmu yang sama-sama sedang berjuang melawan jarak tanpa kenal ragu dan lelah.
Maafkan aku yang selalu manja dan memintamu cepat pulang.

Semenjak aku jauh darimu, aku benci dengan yang namanya rindu. Sejak kita tak saling beriringan, aku selalu merasa bahwa rindu ini curang, setiap hari ia selalu bertambah tanpa tau caranya agar berkurang. Ingin sekali rasanya aku berdamai dengan semua ini, dengan si jarak, dengan si lelah, bahkan dengan si rasa kecewa yang selalu berperang di dalam batinku, setiap harinya.
Karena jarak ini, aku sekarang punya sahabat baru, yaitu si cemas dan kecewa. Ingin sekali rasanya aku berteriak di depanmu, agar kau tahu sakitnya menahan rindu yang telah tersimpan berbulan-bulan lamanya.
Maafkan aku yang masih saja seperti anak kecil, yang selalu inginkanmu untuk cepat pulang, menemuiku dan mendengarkan semua keluh kesahku selama kau tak ada bersamaku. Egois memang kedengarannya.
Hai priaku, tenanglah, aku akan tetap dengan sabar menunggu kau pulang dan bisa merengkuhku dengan penuh kasih. Berjanjilah wahai priaku, berjanjilah bahwa disana kau akan tetap tersenyum jika kau mendengar namaku. Berjanjilah pula, bahwa kau juga sabar memaklumi wanitamu yang masih berusaha berteman dengan jarak ini..
Maafkan aku yang masih saja meragu, meski telah beribu caramu untuk meyakinkanku.

“Aku cuma ingin kamu segera pulang, hanya itu. Tidak lebih. Apa itu susah?”
“Bukan seperti itu, memang belum saatnya aku pulang. Bersabarlah, tahan sedikit lagi rindumu, aku pun juga ingin segera bertemu”
Tak jarang, hanya karena kau tidak menghubungiku, semua fikiran jelekpun tercurahkan kepadamu. Klasik memang, tapi harusnya kau tahu bahwa membuat wanitamu selalu berkutat dengan rasa gelisah itu tidak baik dan tidak boleh kau lakukan. Suatu hari kau berbincang sebuah kisah indah di masa depan denganku, kau berkata akan membawakan sebuah cincin dan memasangkannya di jari manis kecil milikku.
Indah memang, bahagia memang jika hal itu bisa terwujud. Tapi lagi-lagi ragu itu muncul, apakah kita bisa mewujudkan semua itu, jika kau tetap saja jauh dariku. Ingin rasanya aku mengibarkan bendera putih dalam kisah ini, sebagai tanda aku ingin menyerah.
Kau bilang, bahwa di sana kau sedang berusaha keras untuk masa depan kita, kau bilang bahwa disana tiada lagi selain aku, kau bilang kita akan selalu berjuang bersama, bahkan kau bilang aku akan selalu jadi satu-satunya dan tiada dua.
Hai priaku, kau tahu ‘kan kalau wanita itu makhluk yang tidak mudah untuk percaya. Baiklah, kali ini jangan hanya berjanji sayangku. Buktikanlah, buktikan bahwa memang kau sedang berusaha untuk kita di masa depan. Buktikan bahwa hanya aku wanita yang sedang kau perjuangkan.
Katamu, menyerah bukanlah hal terbaik untuk semua ini.

“Sayang, maafkan aku, aku nggak jadi pulang, aku belum tahun kapan bisa pulang. Sabar lagi ya.”
“Sampai kapan kayak gini, gak tau deh.”
“Sabarlah lagi, kita pasti bisa kok.”
Tak hanya sekali atau dua kali aku berkata “akhiri semua ini” padamu, wahai lelakiku. Lagi-lagi dengan sabar kau meyankinkan bahwa tak lama lagi kita akan mengakhiri jarak ini. Kau pun selalu berkata, kita pasti bisa menaklukkan jarak ini. Seketika, kau membuatku yakin dan kuat lagi. Berulang kali kau bilang, bahwa kau pasti akan pulang, kau bilang bahwa rumahmu adalah aku, iya rumah, tempatmu untuk berlindung dari kerasnya kehidupan hingga tempatmu berbagi kisah.
Lagi-lagi kau berhasil memenangkan hatiku. Terima kasih kau tidak pernah menyerah menguatkanku dan terima kasih kau telah menjadi partner terbaikku dalam melawan jarak. Aku yakin, kita pasti akan saling merengkuh hingga akhirnya tiada yang mengalahkan kebahagiaan atas pertemuan yang kita nanti-nanti ini. Semoga kau baik-baik di sana, aku mencintaimu, itu sebabnya aku tidak pernah berhenti mendoakanmu di balik rajutan rinduku.
Tulisan ini adalah kiriman dari IDN Community. Kalau kamu ingin mengirimkan artikelmu, kirimkan ke community@idntimes.com


















