Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Wow! Tanpa Harus Bersikap Keras, Ini Cara Orang Jerman Mendidik Anak Mereka!

Wow! Tanpa Harus Bersikap Keras, Ini Cara Orang Jerman Mendidik Anak Mereka!

Stereotipe yang banyak dari kita tahu adalahĀ orang tua harus tegas untuk mendidik anaknya. Namun, hal ini tidak terlalu berlaku untuk sistem pendidikan anakĀ di Jerman. Sikap keras pada anak sudah ditinggalkan. Orang tua diĀ Jerman justru menghendaki sebuah pendidikan anak dengan cara baru yaituĀ mandiri dan bertanggungjawab. Selain itu juga menjunjung kebebasan dan penghargaan.Ā Ā 

Nah, penasaran bagaimana sistemnya?Ā Berikut beberapa cara dari Jerman agar anak-anak bisa memiliki kedua sifat kunci tersebut.

1. Ada proses yang berjenjang dalam pendidikan.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20151223/04011090204-std-82b10d9277596b449cb2a9b83079eaf6.JPG

Proses pendidikan itu berjenjang alias bertingkat-tingkat. Orang Jerman tidak pernah memaksakan anaknya yang masih Taman Kanak-Kanak (TK)Ā untuk belajar membaca. Usia TK dipakai untuk berlatih bersosialisasi dan bermain dengan teman sebayanya. Mereka baru akan mulai belajar pelajaran akademik setelah memasuki sekolah dasar. Cara ini membuat anak usia 15 tahun Jerman memiliki performa terbaik di kelas internasional (Berdasarkan penilaian dari Organization for Economic Co-operation and Development).

2. Selalu dorong anak untuk mampu berpikir mandiri mengenai konsekuensi.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20151223/ma2-0801904f96dc887c325f08cdd8905bc3.jpg

Seorang anak tak ubahnya seperti manusia yang penasaran terhadap hal-hal baru. Mereka minim pengalaman, maka apa yang ditemui tiap harinya adalah hal baru. Orang tua seharusnya tidak berhak membatasi mereka dengan larangan-larangan. Cukup ajari tentang konsekuensi terhadap suatu perbuatan agar anak-anak paham sebab-akibat dari perbuatannya.

3. Biarkan anak-anak menjelajah dunia sendiri.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20151223/ma3-1375d0d5e67c650fe4b18cf6b548dc36.jpg

Orang Jerman membiarkan anaknya menjelajahi dunianya sendiri. Bahkan anak-anak usia sekolah dasar sudah sering nampak lalu lalang di stasiun kereta bawah tanah. Tentu ini tak bisa diterapkan di negara seperti Indonesia, yang rawan kasus penculikan. Tetapi cukuplah biarkan anak-anak mengenali lingkungan sekitar rumahnya sendiri.

4. Perayaan untuk peristiwa besar dalam hidup.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20151223/ma4-d2090aff9296f7400a0b964d34645110.jpg

Orang Jerman berpesta untuk merayakan tiga hal besar dalam hidupnya. Pertama adalah Einschulung (masuk kelas satu sekolah dasar), Jugendweihe (awal usia kedewasaan, sekitar umur 14 tahun), dan ketika mereka menikah. Einschulung dirayakan untuk memberi semangat perubahan besar dalam hidupnya, bahwa mereka harus belajar. Sementara Jugendweihe adalah tanda bahwa para remaja sudah mampu berpikir layaknya orang dewasa, yaitu mampu bertanggung jawab untuk dirinya sendiri.

5. Bawa anak-anak untuk berjalan-jalan.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20151223/ma5-d9b162f4256c7bbed77b629373bbb148.jpg

Pepatah Jerman berkata, ā€œTak ada waktu yang tidak tepat untuk mengajak anak-anak berjalan-jalan. Hambatan yang ada hanyalah baju yang tidak pas.ā€. Pengalaman bersama dalam suasana apapun ini adalah cara yang tepat untuk mempererat ikatan anak dengan orang tua.

6.Ā Ajari anak-anak untuk meminta ijin bila memakai barang yang bukan miliknya.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20151223/ma6-6312f8f78a6cb97256e055449cafdcde.jpg

Dengan cara ini, anak-anak akan terbiasa menghargai barang-barang milik orang lain. Teknik ini juga berguna untuk mencegah perilaku mencuri dan bertindak seenaknya.

7.Ā Selaraskan perkataan dan perbuatan.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20151223/ma7-d3885b692d668a337703ee755fc7c969.jpg

Anak-anak adalah sosok yang cerdas sebenarnya. Mereka bisa menilai secara langsung perkataan dan perbuatan. Bila orang tua memberi nasihat tapi tidak menjalankan nasihatnya sendiri, berarti ada inkonsistensi. Anak-anak akan menangkap kejanggalan tersebut dan mengecap bahwa orang tersebut tidak bertanggung jawab. Bahasa kasarnya, cuma omdo, alias omong doang.

8. Tekankan pada anak-anak, lebih penting mana ā€œisiā€ atau ā€œbungkusā€?

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20151223/ma8-507e20f7886e47a8d479eaafc603314d.jpg

Bungkus memang penting, tapi tidak lebih penting dari isi. Negara-negara yang sejahtera, lebih mengutamakan kemampuan daripada sekedar penampilan. Lebih penting isi kepala daripada sekedar merk pakaian yang dipakai.

Mendidik anak adalah proses yang panjang. Perlu jurus-jurus jitu agar anak bisa menjadi pribadi yang teladan. Nah, sebagai inspirasi, barangkali trik mendidik anak ala Jerman ini bisa kamu terapkan saat sudah berkeluarga nanti.Ā 

Share
Topics
Editorial Team
Fajar Nurmanto
EditorFajar Nurmanto
Follow Us

Related Articles

See More

Double Cleansing Dulu atau Maskeran Dulu? Simak Jawabannya di Sini!

13 Apr 2026, 14:03 WIBLife
Article Test

Article Test

04 Mar 2026, 09:09 WIBLife
ARTIKEL TESTING NOTIF 2

ARTIKEL TESTING NOTIF 2

24 Feb 2026, 10:30 WIBLife