Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App

10 November 1945 adalah hari di mana ribuan pemuda-pemudi di Surabaya bertarung dengan berani sebagai pahlawan bangsa. Mungkin kamu berpikir kepahlawanan bangsa berakhir disana, tapi tidak. Kalau kamu berpikir bahwa keadaan negara kita saat ini menyedihkan, mungkin kamu dapat berpikir kembali di hari pahlawan ini. Karena sebenarnya dalam bulan ini saja, aku telah bertemu berbagai pahlawan yang luar biasa di negara kita!

Terima kasih pahlawanku di lapangan basket.

Suatu hari aku sedang asyik main basket dengan teman-teman di lapangan dekat rumah. Karena memang lagi asyik, aku tidak teralu peduli dengan barang-barangku yang tergeletak di pinggir lapangan. Dan akhirnya aku tidak sadar saat aku pergi dengan teman-temanku, bahwa aku telah meninggalkan dompetku disana. Sekitar lima menit kemudian aku sadar, tapi saat aku kembali, dompet itu tak kutemukan dimanapun. Hilang sudah, pikirku. Ingin rasanya aku menyalahkan sang pencuri yang tega mengambilnya, tapi sebenarnya itu semua salahku sendiri, bukan?

Akhirnya aku pulang saja. Aku menelepon bank untuk memblokir kartu ATM dan sebagainya.

Satu minggu kemudian, pekerja di kantor sekolah menyuruhku datang ke kantor untuk mengambil sebuah paket yang dikirimkan untukku. Aku bingung, aku gak pernah pesan barang untuk dikirim ke sekolah, aneh sekali. Aku datang ke kantor dan saat ku buka, isinya adalah dompetku itu. Isi di dalamnya masih lengkap, ada kartu pelajarku, ATM, bahkan uang 50.000 rupiah yang selembar itu masih ada disana. Hebat.

Tak ada nama, tak ada pamrih. KTPku tidak ada disana, jadi orang yang menemukan dompet itu mengirimkan dompetku ke alamat sekolah. Aku tidak percaya, masih ada orang seperti ini di dunia. Terima kasih ya pahlawanku.

Terima kasih pahlawanku di jalan kecil daerah Manyar

Aku sedang nyetir sendirian, sekitar jam 11 malam, seusai mengantarkan teman di daerah Manyar yang masuk gang-gang dan aku gak tahu jelas arahnya. Sebenarnya aku gak terlalu jago nyetir, dan sama sekali nggak jago dengan jalanan Surabaya. Tapi begitulah aku, nekat aja terus. 

Akhirnya setelah nganterin teman, aku harus cari jalanku keluar. Jalanan itu sempit sekali, hanya satu mobil bisa lewat. Jalanannya juga gelap, dan GPS smartphone juga nggak berfungsi. Gawat, pikirku. Aku harus kemana aku tidak tahu. Dan makin maju, jalanan jadi makin sempit.

Akhirnya aku memutuskan untuk membuka kaca dan bertanya pada seorang pria yang tampangnya ganas seperti preman. Bukannya apa, tapi tidak ada orang lain disana saat itu. Dengan takut-takut, aku bertanya jalan. Dan dengan ramah-tamah dan tersenyum ia memberitahuku jalan keluar ke jalan raya. Aku harus atret mundur agak jauh karena aku salah jalan. Dengan sabar ia membantuku memberi aba-aba untuk atret. 

Akhirnya aku bebas dari jalan sempit itu dan berhasil menemukan jalanku. Saat aku menawarinya uang, ia malah berkata jangan dan menyuruhku berhati-hati pulang. Terima kasih pak, berkatmu aku dengan selamat bisa sampai ke rumah. 

Terima kasih pahlawanku di sebuah gang di dekat LP Kerobokan di Bali

Saat itu aku sedang berjalan dengan temanku ke supermarket dekat rumah. Saat berjalan pulang, temanku menyarankan untuk lewat sebuah gang kecil yang katanya adalah jalan pintas. Aku menurut saja, tapi begitu kita masuk gang itu, ada tiga anjing besar yang keluar dari rumah sebelah dan menjenggong dengan kerasnya sambil berlari ke arah kita. Otomatis kita kaget dan ikut lari juga sambil berteriak-teriak. Hari sudah malam, mungkin tidak ada yang mendengar kita. 

Kita berhasil lari kembali sampai ke supermarket. Tapi kemudian temanku sadar, sandalnya tertinggal di jalan ketika berlari. Kita kembali untuk melihat dan ternyata benar, tiga anjing itu sedang menunggui sandal temanku itu di depan jalan gang. Temanku tidak mau pulang tanpa sandalnya. Kitapun bingung, apa yang harus dilakukan di situasi seperti ini.

Kemudian seorang mas-mas dari supermarket keluar dan melihat kita. Ia bersukarela menawarkan dirinya untuk maju dan mengambilkan sandal itu untuk kami. Kami tahu, sebenarnya ia juga takut. Dengan sangat pelan dan hati-hati, ia maju menemui tiga anjing itu. Untungnya anjing-anjing itu tidak melakukan apa-apa dan membiarkan ia pergi dengan sandal kami. Orang itu hanya tersenyum saja sambil mengembalikan sandal kami. Ia pergi dengan sebuah nasihat, "kalau nggak takut gak papa kok mbak, anjingnya gak mungkin ngapa-ngapain". Mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Tapi orang itu telah melakukannya untuk kita.

Mungkin hal-hal di atas tergolong simpel, lucu, atau biasa saja dibandingkan dengan peperangan tahun 1945. Tapi aku rasa, orang-orang demikian tetaplah seorang pahlawan. Dan aku percaya, kalau Indonesia penuh dengan pahlawan-pahlawan seperti ini, masa depan kita pasti akan sangat baik.

Editorial Team