Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sedih! Mungkin Ini Rasanya Kehilangan Orang Tercinta Karena AIDS

Hingga kini, ribuan orang meninggal dunia karena HIV/AIDS. Menjalani hidup dengan penyakit ini tentu tak mudah, rasa sakit yang mendera secara perlahan tapi pasti justru membuat penderita jadi tersiksa. Tapi ternyata tidak hanya penderita saja yang merintih kesakitan, orang - orang yang mencintai ODHA (sebutan untuk penderita HIV/AIDS) juga merasakan lara yang tak banyak diketahui orang. 

Dilansir dari Elitedaily.com, seorang perempuan Afrika Selatan berbagi bagaimana rasanya kehilangan orang tercinta karena menderita HIV/AIDS. 

1 dari 10 orang di Afrika Selatan hidup dengan HIV/AIDS.

Meskipun data stastistik ini mencengangkan, nampaknya ini adalah realita yang telah diterima oleh sebagian besar masyarakat Afrika Selatan, salah satunya aku.

Sejak aku masih kecil, kami penduduk Afrika Selatan telah sadar akan realita menyakitkan ini. Bahkan sekolah-sekolah dasar di tempat kami telah memberikan edukasi terhadap penyakit mematikan yang sampai sekarang belum ada obatnya ini.

Namun tak ada satupun dari buku teks tentang AIDS yang kubaca memberikan bantuan terhadap orang yang kehilangan orang tercinta karena AIDS. Dan aku adalah salah satu orang yang merasakan pedihnya kehilangan orang tercinta karena AIDS, di usia 12 tahun aku harus menghadapi kenyataan pahit itu.

Namanya Joyce, ia telah bekerja untuk keluargaku sebagai pembantu sejak sebelum aku lahir.

Aku memanggilnya Nana.

Ia adalah pengasuhku dan kakakku. Ia juga memasak, membersihkan rumah dan tinggal bersama kami. Ia adalah ibu kedua bagiku dan sahabat karib ibuku. Banyak hal yang kami lalui bersama, mulai dari mengajariku Sotho (bahasa ibu di Afrika Selatan) hingga mengajariku bagaimana menyanyikan lagu kebangsaan negara kami, Afrika Selatan.

Tak pernah ia ragu untuk menghukumku ketika aku bersalah dan setelah itu ia juga akan menghujaniku dengan kasih sayang dan kelembutan yang sama seperti ibuku sendiri berikan. Ia mengantarku ke bus stop setiap pagi dan menjemputku di tempat yang sama di siang harinya. Setelah itu kami akan duduk berdua di pekarangan rumah, menikmati camilan yang ia buat untukku.

Dan aku ingat, aku marah besar ketika ia memintaku untuk menjaga jarak dengannya.

Aku tak akan pernah lupa ketika suatu pagi aku memutuskan untuk kabur dari rumah. Aku masih berusia 5 tahun dan hanya membawa sebuah tas kecil berisi sikat gigi bersamaku.

Aku mengayuh sepedaku jauh-jauh dari rumah dan tanpa tujuan yang jelas. Ketika sore hari dan aku merasa lelah, aku memutuskan untuk kembali ke rumah.

Nana membuka pintu dengan tetesan air mata nampak di wajahnya, seketika ia tertawa lepas dan memelukku erat. Ternyata selama seharian ia mengikutiku pergi dan berkata pada orang tuaku bahwa kami berdua pergi bersama ketika nyatanya ia sedang membuntutiku dari kejauhan dan membuatku samasekali tak sadar bahwa ia selama ini mengawasiku.

Dan ketika aku berusia 12 tahun, ibu mengajakku berbicara dan berkata bahwa Joyce sedang sangat sakit, mengidap HIV.

Saat itu aku tak tahu bahwa ternyata penyakit yang dideritanya adalah AIDS tahap akhir.

Joyce pulang ke rumah dan menjalani terapi dari dokter sehingga aku tak memiliki banyak kesempatan untuk bertemu.

Aku sangat marah kala itu. Dan kemudian beberapa waktu kemudian kami menerima kabar bahwa Joyce telah meninggal dunia. Ia terkena TBC, dan sistem imunnya tak mampu melawan penyakit tersebut.

Aku selalu menangis setiap malam selama berbulan-bulan.

Aku telah kehilangan ibu keduaku, dan aku bahkan tak memiliki kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.

Hidupku dengan mudahnya terbalik dari atas ke bawah.

Aku adalah orang pertama di antara teman-temanku yang kehilangan seseorang karena AIDS. Aku ingat bahwa aku pernah merasa malu karena perempuan yang membesarkanku meninggal karena terkena virus mematikan.

Aku tak akan pernah melupakannya, Nanaku, perempuan yang mengantarkanku ke halte bus setiap pagi, orang yang selalu kutuju ketika aku bertengkar dengan orang tuaku, perempuan yang selalu memberitahuku bahwa keluarga ada jauh di atas segalanya.

Ia adalah Joyce tercinta kami, yang mengajariku lagu nasional Afrika Selatan sebelum aku mampu membaca.

Share
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More

Dolorem ut similique fugit amet provident ut perferendis suscipit m

01 Des 2025, 15:19 WIBLife