Kondisi Keluarga Ini Susah, Tapi Melihat Sifat Anak Sulungnya, Kamu Pasti Kaget!

Hari itu kegembiraan menyelimuti keluarga Yanto. Dia berhasil meraih beasiswa pendidikan penuh di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Kegembiraan itu diluapkan orang tua dengan memeluknya dengan erat sambil berkaca-kaca. Kebanggaan, tentunya, juga dirasakan mereka.
Ketika memastikan diri ke Jakarta, Yanto yang merupakan asli kelahiran Bandung ini mulai mempersiapkan diri. Namun, selama mempersiapkan kepindahannya, Yanto teringat akan hidupnya bersama keluarga semasa SMP sampai SMA.

Ayahnya dulu adalah supir truk tangki minyak tanah. Namun, setelah 15 tahun kerja, kebijakan pemerintah untuk mengoversi minyak tanah ke gas elpiji memberi dampak besar bagi keluarganya. Ayahnya kehilangan pekerjaan akibat pabrik minyak tanah tempatnya bekerja tutup. Seluruh pegawai di-PHK.
Tanpa pekerjaan, ayahnya kesulitan dengan kondisi ekonomi. Apalagi dirinya bersikeras kalau ibu Yanto tidak boleh bekerja. Namun, tiga bulan berlalu, ekonomi keluarganya semakin berat.
Namun, akhirnya sang ayah luluh dan membiarkan sang ibu bekerja di pabrik kapas dekat rumah. Meski begitu, ayahnya tetap mencari pekerjaan baru. Yanto sendiri hanya mendapat biaya transportas, makan pun dibekali dari rumah. Yanto sendiri berusaha memahami kondisi keluarganya.
Baca Juga: Pria Ini Malu Mengakui Ibunya yang Buta dan Sepucuk Surat Mampu Mengubah Segalanya!

Malam itu Yanto menjelaskan kepada ibunya kalau ada kewajiban pembayaran uang untuk membeli buku latihan (LKS). Namun, setelah menjelaskannya, Yanto, sembari menangis, mengatakan bahwa bila tidak ada biayanya tidak masalah. “Saya juga bilang sama ibu, saya berhenti sekolah saja agar tidak memberatkan keuangan keluarga,” kata Yanto.

Mendengar hal itu, sang ibu pun tak dapat menahan air mata dan langsung memeluk Yanto. “Ibu bilang saya harus tetap sekolah, soal biaya akan dipikirkan ayah dan ibu,” tambah Yanto.
Keesokan harinya, Yanto mendapati uang di saku seragamnya dengan secarik kertas bertuliskan “Untuk bayar LKS”. Kebingungan, Yanto tidak bisa menemui orangtuanya karena masing-masing sudah pergi.
Sebulan kemudian, ayahnya kembali mendapat pekerjaan sebagai supir truk air galon dekat rumah. Mulai dari situ kondisi ekonomi mereka kembali merangkak naik. Namun, orangtua yang sibuk bekerja membuat Yanto yang kala itu menginjak kelas sembilan harus mengurus rumah dan adiknya yang masih SD.
“Waktu itu juga makannya seadanya, aku yang masak. Seringnya bikin telur dan tempe,” timpal Yanto.
Bahkan, demi anak-anaknya, ayah Yanto hanya makan nasi dengan kecap dan sambal. Lauk diberikan pada kedua anaknya. “Ayah itu lelaki sejati,” katanya.

Mengingat itu, mata Yanto berkaca-kaca. Betapa bangganya dia pada perjuangan kedua orangtua. Meski harus berjibaku selama enam tahun terakhir, dia masih ingin memberikan yang terbaik bagi orangtuanya. Dia sendiri juga bangga dengan dirinya yang bisa mendapat beasiswa penuh untuk menempuh pendidikan tinggi.
Baca Juga: Malas Kuliah? Kamu Seharusnya Malu dengan Semangat Belajar Anak Ini!


















