Fatal, Kesalahan Ini Kerap Terjadi saat Menolong Korban Kecelakaan!

Angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia termasuk tinggi dan sering kali menelan korban. Korban kecelakaan ini sudah sepatutnya mendapatkan pertolongan segera pada waktu kritis sehingga bisa terselamatkan. Akan tetapi bila bantuan dari pertolongan petugas gawat darurat belum tiba, biasanya masyarakat berinisiatif menolong korban terlebih dahulu.
Pertolongan yang diberikan kepada korban harus dilakukan dengan benar agar tidak memperparah kondisi korban yang sudah gawat. Alih-alih menolong, perlakuan yang tidak tepat dapat mempercepat kematian korban. Berikut ini beberapa kesalah pertolongan yang masih kerap terjadi dilakukan orang umum di tempat kejadian perkara.
1. Asal mengangkat dan memindahkan korban yang cidera

Korban yang mengalami kecelakaan memang perlu dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Tetapi, memindahkan korban kecelakaan, terutama dengan cidera berbeda dengan korban yang pingsan. Orang yang tidak mengerti sering kali mengangkat korban tanpa pertimbangan, dan tidak melihat adanya cidera. Ketika korban ternyata mempunyai cidera di salah satu bagian tubuh, dan kita salah meemindahkannya, bisa-bisa cidera itu menjadi semakin parah.
Dalam memindahkan korban pastikan posisi agar tubuh korban tidak mengalami banyak perubahan atau pergerakan. Apabila ada cidera, dan korban merupakan orang dewasa, pertolongan minimal dilakukan oleh 3 orang. Sebelum mengangkat, apabila memungkinkan cek tubuhnya, apakah ada tanda-tanda cidera. Jika ada, lakukan pembidaian atau fiksasi terlebih dahulu untuk mengamankan cidera tersebut.
2. Melepas helm korban dengan cara dan posisi yang salah
Memakai helm saat berkendara bukan berarti bebas dari cidera kepala. Kesalahan yang jamak terjadi yaitu helm dilepas dengan cepat tanpa mempertimbangkan adanya cidera di leher. Apabila ternyata korban mengalami cidera leher, perubahan posisi mendadak dapat mengakibatkan schock dan berdampak pada susunan saraf di leher. Saraf di leher merupakan susunan yang vital. Kesalahan yang kecilpun bisa membahayakan nyawa korban.
Berhati-hati adalah prinsip utama dalam menolong korban kecelakaan. Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Melepas helm dilakukan dengan mengamankan posisi kepala dengan tangan agar tidak terjadi perubahan kedudukan yang mendadak. Apabila korban masih sadarkan diri, sebaiknya tanyakan dulu apakah ada bagian yang sakit di bagian kepala.
3. Melewatkan golden time dan tanda-tanda vital denyut nadi dan pernafasan

Memastikan denyut nadi dan pernafasan merupakan hal utama yang perlu dilakukan saat hendak menolong korban. Kesalahan yang biasa terjadi adalah terlalu lama mengenali tanda vital ini dan pemberian bantuan hidup dasar yang terlambat dilakukan.
Waktu seseorang bisa bertahan atau golden time korban yang henti nafas dan henti jantung tidak lebih dari sepuluh menit. Lebih dari itu, korban bisa-bisa tidak terselamatkan.
4. Kesalahan saat kontak dengan perdarahan

Apabila korban mengalami perdarahan, yang perlu dilakukan adalah menghentikan perdarahan tersebut. Akan tetapi, yang sering terjadi penolong tidak memperhatikan keselamatannya sendiri dan secara tidak sengaja melakukan kontak dengan darah korban.
Kontak dengan darah merupakan hal yang berisiko karena darah merupakan zat yang mudah menjadi perantara penularan penyakit. Kita tidak tahu apakah korban mempunyai penyakit tertentu atau tidak, sehingga kita perlu mnakan alat pelindung diri saat menolong korban. Tetap berhati-hati kita dan sebisa mungkin hindari kontak langsung dengan darah korban.
Kita tidak tahu kapan dan dimana terjadi kecelakaan. Pertolongan pertama kepada korban sebelum ada petugas terlatih datang memang diperlukan. Akan tetapi kehati-hatian tetap menjadi kunci utama. Akan lebih baik lagi apabila masyarakat umum bisa menguasai ketrampilan pertolongan pertama. Jangan sampai pertolongan yang diberikan justru semakin memperparah keadaan.


















