Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Stop Menonton Tayangan Reality Show Bertema Cinta! Ini Lho 10 Alasannya

Stop Menonton Tayangan Reality Show Bertema Cinta! Ini Lho 10 Alasannya

Tidak bisa dipungkiri, tayangan reality show (dan juga reality drama) masih jadi unggulan beberapa stasiun televisi di tanah air. Jumlah peminat yang bisa dikatakan tidak sedikit, jadi salah satu alasannya. Di samping itu, tema cinta yang diangkat juga tak pernah basi. Tapi ada beberapa alasan mengapa kamu juga harus mengkritisi tayangan semacam ini. Kenapa?

1. Tidak memberikan manfaat secara spesifik. Menghiburkah? Informatifkah? Mengedukasikah?

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20160405/1-fdfd88456038a738adc66eabe8c596ce.jpg

Coba kamu tanyai dan yakinkan dirimu sendiri. Apakah kamu mendapatkan manfaat yang spesifik dari acara reality show? Apakah kamu terhibur? Apakah kamu mendapatkan informasi? Apakah kamu mendapatkan pengetahuan atau unsur pendidikan?

2. Membuka ranah pribadi menjadi konsumsi publik. Yang harusnya privat malah diumbar-umbar.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20160405/2-0f2aceebc0687580ebb8a6e50ce99fd5.jpg

Menurut kamu, apakah masalah dengan pacar adalah suatu hal yang layak diumbar ke area publik? Apakah memutuskan kekasih lengkap dengan drama-dramanya adaah hal yang patut kita ketahui?

3. Kita tidak mengenal siapa-siapa saja talent yang terlibat di dalamnya. Jadi apa daya tariknya?

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20160405/3-ad5f0021a90e24ea48a55cf7856590b6.jpg

Ketika kita menonton tayangan infotainment, kita merasa itu menarik karena terbiasa mengenal sosoknya lewat karya-karya (sebut saja lagu, humor,atau musik). Pada kebanyakan acara reality show, sosok-sosok yang ada di dalamnya bukan dari kalangan artis. Kita tidak tahu pasti apakah itu klien yang sesungguhnya atau sekedar talent dan apa karyanya.

4. Tidak ada figur yang memacu anak muda untuk lebih berprestasi dan penuh karya.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20160405/katakan-putus-9703f4f6930c1577778ab28af6524496.jpg

Anak muda selalu membutuhkan sosok yang bisa dijadikan panutan dan inspirasi. Tentunya, keberadaan tayangan yang bisa dijadikan panutan atau inspirasilah, yang menjadi jawaban untuk kebutuhan mereka.

5. Banyak gimmick-gimmick yang berlebihan. Kamu bisa membacanya, kan?

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20160405/5-10e15e252eda8334ca7677210ede04e1.jpg

Tidak bisa dielakkan lagi kalau sesuatu yang bernuansa dramatis, sering membuat penasaran orang. Tak mengherankan jika kita menemui banyak gimmick-gimmick berlebihan pada acara reality show. Bahkan, ada gimmick yang bisa dirasakan tidak masuk akal.

6. Kita dipertontonkan pada adegan penuh amarah dan emosi.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20160405/6-b5fd1049d38f61a8beeb32c2871c7193.jpg

Perlukah kita menonton orang marah-marah?

7. Tidak sesuai konsepnya yang "reality show" karena responsnya juga sudah diatur.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20160405/7-8f6544ee7fc16ad6c9613bc86d9f8860.jpg

Dari sudut pengambilan gambar, alur cerita, dan gimmick, masyarakat kita bisa menilai kalau ada yang janggal. Apakah tayangan “reality show” benar-benar nyata?

8. Beberapa tayangan reality show bahkan pernah ditegur KPI, minimal teguran tertulis.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20160405/8-40bff14507ec56b0be4bacee2c7f66ec.jpg

Jika kita merunut laman KPI, ada sejumlah tayangan reality show yang mendapat aduan dari masyarakat. Masyarakat menilainya kurang mendidik dan mencemari hak privasi. Tak hanya itu, KPI pun minimal memberikan teguran tertulis untuk reality show yang menunjukkan aksi kekerasan seperti misalnya menampar.

9. Tayangan penuh drama tersebut tayang pada jam aktif anak-anak dan mereka bisa menirunya.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20160405/9-4c7ede940edd8822f3bf3474291119e9.jpg

Jam tayang reality show cukup bervariasi. Ada yang pagi, siang, hingga sore. Namun yang pasti, kebanyakan acara tersebut ditayangkan pada saat anak-anak berpotensi menonton tayangannya. Jika mereka meniru dengan polosnya dan tanpa pengawasan, bukankah bisa berbahaya?

10. Orang akan menganggap yang ditampilkan dalam acara tersebut, adalah hal yang lumrah pada masyarakat/sepasang kekasih. Padahal, gak gitu juga kan?

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20160405/10-cf68e8567d691ccc82a3cccc326d8363.jpg

Padahal, belum tentu semua kisah cinta mengalami kisah yang sedramatis itu. Jatuh cinta, patah hati, PHP, friendzone, dan sebagainya pasti pernah orang alami. Tapi, tidak semua harus ditanggapi dengan berantem, marah-marah, sampai melakukan kekerasan fisik bukan?

Mulai dari sekarang, yuk lebih kritis pada apa yang kita tonton!

Share
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us

Latest in Hype

See More

Bos IKEA Jepang Jenguk Punch si Monyet Viral, Donasikan Boneka

06 Mar 2026, 10:30 WIBHype
My FAQ Article - Automation

My FAQ Article - Automation

04 Mar 2026, 15:32 WIBHype
My FAQ Article - Automation

My FAQ Article - Automation

03 Mar 2026, 15:54 WIBHype
My FAQ Article - Automation

My FAQ Article - Automation

03 Mar 2026, 15:35 WIBHype
My FAQ Article - Automation

My FAQ Article - Automation

03 Mar 2026, 15:29 WIBHype
My FAQ Article - Automation

My FAQ Article - Automation

03 Mar 2026, 15:26 WIBHype
My Movie Review - Automation

My Movie Review - Automation

27 Feb 2026, 08:52 WIBHype
My Movie Review - Automation

My Movie Review - Automation

26 Feb 2026, 16:08 WIBHype
My Movie Review - Automation

My Movie Review - Automation

26 Feb 2026, 14:11 WIBHype