Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[Cerpen] Bahasa

Aku sedang dikejar deadline yang sepertinya semakin dekat, untuk bisa peroleh gelar sarjanaku. Mungkin aku harus berhenti mengejarnya dan membiarkannya, agar ia tak semakin mendekat. Jadilah kuputuskan untuk menonton kembali kumpulan Sherlock Holmes-ku tanpa subtitle bahasa Indonesia. Sekalian latih bahasa inggris, yang semakin menumpul karena kebanyakan nonton drama dan reality show Korea Selatan.

Yah, meski drama-drama itu kutonton dengan subtitle bahasa inggris, tapi yang masuk di telingaku adalah semua kata-kata korea yang bahkan jika tak ada lagi subtitle, aku mungkin akan bisa memahami apa yang orang-orang itu katakan. Apalagi sepertinya otak kiriku merespon dengan baik bahasa korea yang kudengar melalui earphone di telinga kananku. Meski, sebenarnya, hanya sok ngerti dan tertawa lebar.

Oh iya kembali pada Sherlock Holmes kesayanganku. Yang kutonton ini seri yang diperankan Benedict. Berarti ini buatan inggris kan? Dan yang Robert Dawney Jr, itu seri keluaran Amerika. Ah, yang sedikit-sedikit ada perbedaan kurasa, bukan jalan ceritanya, tentu saja aku menikmati setiap adegan-adegan yang mereka sajikan. Lalu apanya yang berbeda? Ah, itu tentu bahasanya. Eh, mereka kan pakai bahasa internasional. Lalu apanya yang berbeda. Tentu dari aksennya. Aku sebenarnya suka semuanya. Yah sekalian belajar lah.

Mataku terpaku pada layar laptopku, saat aku teringat pada blogku. Segera kutekan tombol space. Dan menyalakan wifi-ku. Melihat sepertinya, tak ada tanda-tanda ada pendatang baru di blog, jadinya kuputuskan untuk menulis dengan cara baru. Aku akan pakai bahasa inggris, biar banyak yang datang berkunjung. Biar banyak yang baca dan berbagi. Bahasa Inggris kan, tak hanya diketahui orang Inggris.

Sayangnya, baru satu kalimat, aku harus membuka kamus elektronikku. Mencari kata yang tak kuketahui. Melanjutkan menulis. Berhenti sebentar, memperhatikan kata yang bergaris merah. Mencari kata yang benar. Menuliskan kata yang benar. Berhenti lagi. Mendapati grammar yang salah.  Dan memandangi satu paragraf. Kuhela nafas berat. Dan memutuskan untuk membuka tab baru. Mengetik "facebook.com".

Well, siapa yang masih main Facebook sekarang ini? Ah, tentu saja, aku. Meski sudah banyak sekali media di dalam smartphone sana. Segera kulihat teman FBku yang sedang online dan tersenyum saat mendapati nama yang kukenal. Won Kim. Dia itu hangguk saram, orang korea.

Kubuka pesannya. Memutar bola mata. Ah, apa yang harus kutuliskan. Beberapa menit, berfikir. Dan akhirnya kuketik, 안녕 하세요. Apa ini? Ini namanya Hangeul—huruf korea, yang disambung-sambung dan menjadi kata yang bisa dibaca, begitu. Artinya, halo. Kugerakkan jari-jariku, sambil menunggu orang yang sama sekali tak kukenal di kehidupan nyata. Dan tak lama, ada balasan. Dia mengetik kalimat yang sama denganku. Jadi sekarang apa? ah, tentu saja aku hanya tahu kalimat sapaan itu dan juga kalimat lainnya adalah terima kasih.

Aku kembali—mempercepat gerakan tanganku—membuka tab baru. Membuka Google Translate dan mengetik kalimat yang ingin kukatakan pada orang itu. Kubaca sekali lagi—meski tak akan membantu, aku tak akan tahu ini sudah benar atau masih ada yang kurang. Kukopi kalimat dalam bahasa Korea itu dan menempelnya di pesanku.

Aku tersenyum saat membaca balasannya. Kukatakan padanya aku ingin belajar bahasa Korea. Dan dia mengatakan, “bagus, kalimatmu sudah benar.” Tentu saja, aku menggunakan Google Translate. Jadinya, untuk melihat apakah selama ini aku mendapat sesuatu dari drama Korea, aku mengetik sendiri kalimatku, menggunakan kata-kata yang sering diucapkan pemeran-pemeran berwajah tampan dan cantik itu, bahkan di gag concert-pun selalu banyak yang berwajah cemerlang, Oh Nami? Apa, ah lupakan.

Aku menunggu beberapa saat. Dan terenyum, saat terdengar bunyi ting—pesan masuk. “What?”

What? Apa? Ah, aku menghela nafas. Kukopi kalimat yang kuketik dengan pengetahuanku sendiri. Mem-paste-nya di Google Translate. Dan membaca terjemahannya. Aku menganga. Berdehem. Menutup tab Facebookku. Kurasa itu hanya salah satu huruf vokal dan artinya hampir membuatku muntah.

Kupandangi layar laptoku dengan sinis. Menghela nafas. Dan mengalihkan pandanganku pada handphoneku yang berbunyi di atas meja. Aku segera meraihnya dan mendapati nama pemanggil, ‘beloved sis.’ Aku tersenyum. Perlu kuinformasikan, kalau kakakku ini sudah S3, jurusan bahasa inggris, dia bicara seperti native speaker.

Kugeser tanda panah hijau, menerima panggilannya. “Haloo, what’s up?”

Ada jeda sebentar. “Assalamu'alaikum, apa mukerja?” suara kakak terdengar dan segera kujawab salamnya. “Bilang i mama, sudah mekiga gare makan? Darikiga kampus? Bagaimana skripsimu? Weh…

Aku diam sebentar. Mengerutkan kening. “Iye, sudahma. Darija tadi konsul. Diasesemi. Sehat-sehatjika orang di rumah?” Aku tersenyum, aku tak perlu berfikir untuk semua kata-kata ini.

*

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Jelsyah D.
EditorJelsyah D.
Follow Us

Latest in Fiction

See More

gtrg

17 Des 2025, 16:33 WIBFiction
ChatGPT Image Oct 29, 2025, 03_22_31 PM.png

dewdw

13 Nov 2025, 14:37 WIBFiction
L5josd0NmR.png

artikel biasa aja

28 Okt 2025, 16:00 WIBFiction
7nTjgyTckg.png

dewd

15 Okt 2025, 10:44 WIBFiction
http://cdn.idntimes.com/content-images/post/old/98eff-aupair---ieuropa.no.jpg

QUIZ BARU

15 Okt 2025, 09:50 WIBFiction
wqd

ded

01 Okt 2025, 13:53 WIBFiction
http://cdn.idntimes.com/content-images/post/old/421a8-woman-yes_karenzeigler.jpg

Artikel 19

16 Sep 2025, 10:18 WIBFiction
VZTiPF6qI2.png

Artikel 3

16 Sep 2025, 10:10 WIBFiction
raDXpkcRlL.png

sxwx wxw

12 Sep 2025, 14:55 WIBFiction