Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You
    [PUISI] Harapan Kerinduan
    pixabay.com/Pexels

    Dalam rintik yang menyampaikan suara
    Serta jahatnya rasa bernama kerinduan
    Hari itu sebelum malam
    Matanya menaruh harapan pada lautan

    Hari ini sebelum malam
    Seusai seribu satu hari telah terhitung
    Tak setetes pun air lautan bicara
    Suaranya hanya tentang saling beradu
    Malu-malu menghampiri ke tepian

    Sesekali lautan diam bungkam
    Kemudian anak itu melepas air mata
    Terduduk di tepian menjelang malam
    Lautan tetap bungkam

    Hari esok sebelum malam
    Suara lautan saling berbisik
    Bertanya satu sama lain
    Anak itu tidak di tepian

    Esok dan esok lagi
    Lautan merindukan
    Setiap harinya hanya saling berbisik
    Menanti-nanti anak itu kembali
    Hingga seribu hari lagi

    Lautan kian merindu
    Tidak lagi saling berbisik
    Lautan saling bertengkar karena rindu
    Anak itu tak kunjung datang

    Hari sebelum malam lainnya
    Lautan menciptakan ombak besar kesekian
    Saling hantam dan menyalahkan

    Menjelang malam
    Lautan terdiam
    Gadis jelita tiba di tepian
    Menatap lautan
    Dengan mata penantian

    Lautan kembali berbisik
    Saling tanya dan kagum
    Tatapannya sama penuh harapan
    Menyampaikan isi hati pada lautan
    Meminta setetes saja berbicara

    Lautan hanya bungkam
    Perlahan menggapai tepian
    Membiarkan si gadis merasakan kerinduan

    Lautan tetap bungkam
    Membiarkan langit menjelang malam
    Menyerahkan pantulan cahaya bintang

    Sesudah malam menguasai angkasa
    Si gadis tersenyum pada lautan
    Pergi dan hilang
    Tidak lagi kembali pada lautan

    This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

    Editorial Team