Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BKPM: Kerja Sama Investasi Indonesia-Timur Tengah Belum Optimal
Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia. IDN Times/Hana Adi Perdana

Jakarta, IDN Times - Potensi kerja sama investasi antara Indonesia dan Timur Tengah belum tergarap optimal. Selama ini investor yang paling aktif berasal dari Asia Timur, sedangkan investor Timur Tengah banyak yang belum berinvestasi khususnya di sektor-sektor strategis. Hal itu disampaikan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia saat berkunjung ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).

“Kunjungan ini menjadi momentum baik di awal tahun, yang menandakan bahwa pemerintah RI juga mendorong investasi bersumber dari negara-negara lain selain Asia Timur,” kata Bahlil dalam keterangan tertulis, Minggu (12/1).

1. Investasi di Tanah Air sangat terbuka

IDN Times/Hana Adi Perdana

Bahlil mengatakan, misi kunjungannya bersama Presiden Joko 'Jokowi' Widodo untuk menjemput investasi miliaran dolar dari UEA. Menurut dia, potensi investasi dari UEA membuktikan investasi di Tanah Air sangat inklusif atau terbuka.

"Tidak benar kalau investasi kita hanya dari Tiongkok atau Singapura saja. Dari negara mana saja, bahkan mau dari langit sekalipun asalkan tidak bertentangan dengan UU dan aturan yang ada, silakan negara mana saja masuk berinvestasi,” ujarnya.

2. Semua negara punya peluang berinvestasi di Indonesia

Ilustrasi Investasi

Menurut Bahlil, investasi di Indonesia tidak bersifat eksklusif. Semua negara memiliki peluang yang sama selagi berkomitmen kuat untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Beberapa sektor yang telah didorong adalah proyek pembangunan kilang minyak (oil refinery), industri petrokimia, industri smelter, aluminium, dan pembiayaan investasi (Financial Investor).

“Bapak Presiden ingin agar kita (Indonesia) mengurangi ketergantungan impor minyak. Oleh karena itu, pemerintah mengejar pembangunan kilang baru atau Grass Root Refinery (GRR). Itulah salah satu kekuatan pengusaha Timur Tengah, kami dorong BUMN maupun swasta kerja sama dengan mereka,” ujar Bahlil.

3. Kesepakatan bisnis akan ditandatangani dalam kunjungan ke Abu Dhabi

Ilustrasi Investasi

Bahlil menambahkan, banyak kesepakatan bisnis di sektor strategis diupayakan akan ditandatangani dalam kunjungan ini. Salah satu sebabnya, industri petrokimia akan menjadi tulang punggung negara menuju sebuah negara industri.

"Kemandirian sektor industri berperan penting mendukung target Indonesia menjadi negara maju pada 2045,” tuturnya.

BKPM bersama kementerian dan lembaga lain serta prwakilan RI di UEA bekerja keras mewujudkan beberapa kesepakatan bisnis dengan UEA.

Direktur Promosi Sektoral Imam Soejedi menyatakan, siap menindaklanjuti kesepakatan tersebut. Inpres No. 7 Tahun 2019 tentang Percepatan Kemudahan Berusaha diharapkan akan mempercepat proses itu.

"Di awal kami telah berupaya negosiasi dengan pengusaha-pengusaha di Indonesia. Selanjutnya setelah kesepakatan yang ditandatangani akan menjadi PR kami. Memastikan bagaimana investasi segera terealisasi, mengawal implementasi serta memberikan insentif-insentif yang selayaknya diterima oleh investor,” kata Imam.

Baca artikel menarik lainnya di IDN Times App. Unduh di sini http://onelink.to/s2mwkb

Editorial Team