Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan awalnya Bendung Kamijoro dibangun pada masa penjajahan Belanda pada 1924 untuk mengairi area sawah seluas 3.274 hektare. Bendung Kamijoro berfungsi untuk suplai air irigasi Daerah Irigasi Pijenan sebesar 2,50 meter kubik per detik untuk mengairi luas sawah 2.374 hektare, meningkatkan intensitas tanam dari 205 persen menjadi 270 persen.
Selain itu, Bendung Kamijoro juga untuk memenuhi kebutuhan air baku sebesar 500 liter per detik untuk Bandara Internasional Yogyakarta dan Kawasan Industri Sentolo, serta Kota Wates. Kemudian, Taman Bendung Kamjiro yang dibangun dalam satu komplek diperuntukkan sebagai objek wisata bagi masyarakat sekitar. Bendung Kamijoro juga merupakan jalan pintas atau penghubung antara Kabupaten Bantul dan Kulon Progo.
Pada 2000-an, Bendung Kamijoro masih berupa intake ke terowongan untuk mengairi sawah yang ada di Kabupaten Bantul tapi ambrol. Kemudian, pada saat kemarau air dari Bendung Pijenan tersumbat tidak dapat mencukupi kebutuhan air sebelum dipanen dan free intake Kamijoro pada 2014 juga mengalami degradasi Sungai Progo akibat penambangan pasir.
Hal lain, yakni Daerah Irigasi Kebonongan dahulunya disuplai dari pengambilan bebas Kamijoro yang terletak di Sungai Progo, namun karena terjadi penutupan sedimen di intake pada 1969, maka diatasi dengan membuat Bendung Pijenan yang terletak di bagian hilir Sungai Progo.
"Pada 2015, saya datang ke sini, dan kami langsung membuat studi kelayakan. Pada 2016 Bendung Kamijoro mulai dibangun dan selesai 2018. Sejak awal 2019, petani Bantul sudah bisa tanam tiga kali dalam satu tahun, dan sebelumnya hanya satu kali panen," katanya.