Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sejarah Rujak Cingur, Warisan Kuliner Jawa Timur
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI
masa kekuasaan Raja Firaun di Mesir

Seorang pengembara bernama Abdul Rozak menyajikan potongan mulut unta dengan saus pekat yang disukai Raja Firaun. Ia kemudian diberi kapal dan berlayar hingga tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

setibanya di Surabaya

Abdul Rozak mengganti bahan mulut unta dengan cingur sapi dan memodifikasi bumbu menggunakan petis lokal. Nama “Rozak” berubah menjadi “Rujak” dalam pelafalan masyarakat setempat.

masa kedatangan komunitas Tionghoa di Surabaya

Masyarakat pesisir mengadopsi teknik pengawetan makanan dari komunitas Tionghoa untuk menciptakan petis udang, bahan utama bumbu Rujak Cingur.

zaman dahulu

Cingur atau mulut sapi dianggap bagian kurang bernilai, namun masyarakat Surabaya mengolahnya menjadi hidangan bergengsi sebagai bentuk kearifan lokal dan penghargaan terhadap seluruh bagian hewan ternak.

kini

Rujak Cingur tetap menjadi kuliner khas Surabaya yang melambangkan akulturasi budaya dan keberagaman, dinikmati lintas generasi dari warung tenda hingga restoran modern.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah Mama dan Papa membayangkan bagaimana sepiring hidangan dengan saus petis yang pekat bisa menjadi identitas tak tergantikan bagi warga Surabaya?

Rujak Cingur merupakan kuliner legendaris asli Surabaya, Jawa Timur, yang namanya diambil dari bahan utamanya, yaitu "cingur" yang dalam bahasa Jawa berarti "mulut" (bagian hidung dan bibir) sapi yang direbus hingga kenyal.

Di balik tekstur uniknya yang menggoda selera, tersimpan rahasia sejarah yang konon melintasi samudera dan berpadu mesra dengan kreativitas lokal masyarakat pesisir.

Berikut, Popmama.com akan memberikan penjelasan sejarah rujak cingur yang jarang diketahui. Yuk simak penjelasannya di bawah ini.

Legenda Eksotis Abdul Rozak dari Negeri Mesir

Pinterest.com/Topwisata.info

Kisah ini adalah bumbu paling menarik dalam sejarah Rujak Cingur yang sering diceritakan turun-temurun sebagai bagian dari tradisi lisan.

Konon, pada masa kekuasaan Raja Firaun di Mesir, seorang pengembara bernama Abdul Rozak menyajikan potongan mulut unta yang dimasak empuk dengan saus pekat yang luar biasa lezat.

Raja begitu terkesima hingga menghadiahi Rozak sebuah kapal untuk berlayar, yang kemudian membawanya terdampar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Karena di Jawa tidak ada unta, ia menggantinya dengan mulut sapi (cingur) dan memodifikasi bumbunya dengan petis lokal, hingga nama "Rozak" perlahan berubah menjadi "Rujak" di lidah masyarakat.

Jejak Akulturasi di Balik Hitamnya Petis Udang

Pinterest.com/Andrias Nicho Nugraha

Jika ditelusuri secara historis, Rujak Cingur adalah simbol akulturasi budaya yang sangat kuat di tanah Jawa Timur.

Bahan utama bumbunya, yaitu petis, merupakan hasil kreativitas masyarakat pesisir yang terinspirasi dari teknik pengawetan makanan komunitas Tionghoa yang telah lama menetap di Surabaya.

Mama mungkin menyadari bahwa petis udang berkualitas tinggi adalah kunci utama, tanpa petis yang pas, rujak ini akan kehilangan jiwanya.

Perpaduan petis udang, kacang tanah, dan gula merah menciptakan harmoni rasa gurih-manis yang melambangkan karakter orang Surabaya yang berani namun tetap hangat.

Inilah sebabnya mengapa setiap penjual Rujak Cingur legendaris selalu memiliki resep petis rahasia mereka sendiri yang dijaga ketat.

Rahasia Pisang Klutuk dan Teknik "Ngulek" Tradisional

Pinterest.com/Laabruo

Mama pasti sering memperhatikan penjual rujak yang memasukkan irisan pisang batu atau pisang klutuk muda ke dalam cobek.

Secara tradisional, pisang ini bukan sekadar pelengkap, melainkan berfungsi sebagai penetral rasa petis yang tajam serta memberikan tekstur kesat agar saus kacang tidak terlalu berminyak.

Teknik mengulek di atas cobek batu besar pun memiliki filosofi tersendiri, tekanan tangan penjual memastikan semua sari sayuran dan buah menyatu sempurna dengan bumbu.

Aroma yang keluar dari gesekan batu cobek saat bumbu diulek mendadak (fresh) adalah pembuka selera alami yang tak tergantikan, sebuah ritual kecil yang menjanjikan ledakan rasa.

Simbol Status Sosial dan Kearifan Lokal Pemanfaatan Daging

Pinterest.com/S Suryawan

Pada zaman dahulu, bagian "cingur" atau mulut sapi dianggap sebagai bagian yang kurang bernilai dibandingkan daging murni.

Namun, masyarakat Surabaya dengan kecerdasannya mengubah bagian yang kenyal dan penuh kolagen ini menjadi hidangan yang sangat bergengsi. Ini adalah bentuk kearifan lokal dalam menghargai seluruh bagian hewan ternak agar tidak ada yang terbuang sia-sia (zero waste).

Mengonsumsi cingur sebenarnya memberikan manfaat kolagen yang baik untuk kulit, tekstur kenyal cingur memberikan sensasi makan yang sangat memuaskan saat bertemu dengan renyahnya kerupuk.

Rujak Cingur sebagai "Melting Pot" Sayur dan Buah

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Uniknya Rujak Cingur dibandingkan jenis rujak lain adalah keberaniannya menyatukan dua kubu makanan, buah-buahan segar dan sayuran rebus (matengan).

Bayangkan Mama menikmati segarnya mangga muda dan bengkuang dalam satu suapan bersama gurihnya kangkung, tahu, dan lontong.

Perpaduan ini mencerminkan karakter Surabaya yang heterogen dan inklusif, di mana segala perbedaan latar belakang bisa menyatu harmonis dalam satu piring.

Rujak Cingur tetap bertahan sebagai hidangan lintas generasi yang digemari mulai dari warung tenda hingga restoran kelas atas. Keberadaannya membuktikan bahwa rasa otentik tak lekang oleh waktu dan zaman yang terus berubah.

Itulah sejarah Rujak Cingur yang jarang diketahui. Selain rasanya yang nikmat, Rujak Cingur juga memiliki asal-usul kisah yang perlu kita ketahui. Jadi, kapan nih Mama dan Papa mau bikin Rujak Cingur?

Topics

Editorial Team